Dark/Light Mode

Masuk Kabinet, Jokowi Berhasil Taklukkan Prabowo Dan Sandi

Kamis, 7 Januari 2021 22:49 WIB
Presiden Jokowi bersama Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto saat kontestan Pilpres 2019. Keduanya sepakat untuk menjaga kesatuan dan persatuan di Indonesia.
Presiden Jokowi bersama Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto saat kontestan Pilpres 2019. Keduanya sepakat untuk menjaga kesatuan dan persatuan di Indonesia.

RM.id  Rakyat Merdeka - Masuknya Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno ke dalam Kabinet Indonesia maju merupakan bentuk kepiawaian Jokowi dalam menaklukan rival politiknya di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu.

Pengamat politik dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Cahyo Seftyono menilai, bila diibaratkan pertandingan sepak bola, Jokowi sudah menang 2-0 atas rival politiknya Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Walaupun penampilannya terkesan lugu, Jokowi merupakan politikus yang sangat cerdik dan pandai bersiasat.

“Kepiawaian Jokowi menaklukkan rival tangguhnya dalam Pilpres 2019 lalu,  merupakan contoh gamblang,” urai dosen Kebijakan Publik ini.

“Sesumbar Prabowo bahwa dirinya akan timbul-tenggelam bersama rakyat, dan kata-kata manis Sandi bahwa tak tertarik masuk kabinet, sirna sudah. Keduanya kini melempar handuk, duduk manis dengan baju putih, menjadi bawahan langsung Jokowi,” imbuh Cahyo dalam keterangan tertulisnya, Kamis (7/1).

Berita Terkait : Kunker Perdana, Sandi Tinjau Protokol Kesehatan Di Objek Wisata Bali

Cahyo mengingatkan, betapa kerasnya cercaan kedua tokoh itu terhadap Jokowi dalam Pilpres 2019 lalu. Tapi hanya dalam setahun, kata-kata tajam  mereka berubah menjadi pujian dan sanjungan setinggi langit kepada mantan rivalnya itu. 

“Banyak orang kini risih mendengar sanjungan Prabowo pada Jokowi,” ungkap Cahyo yang sering meneliti isu-isu politik lokal.

“Seperti lagu Macane Dadi Kucing yang populer dikalangan masyarakat luas. Ini mungkin tak ada duanya di dunia,”ucapnya. 

Dengan gayanya yang khas dan tenang, Jokowi memainkan strategi memangku lawan' dengan memberi pangkat atau jabatan sehingga lawannya senang, padahal Jokowi menang lebih besar. "Seolah-olah seperti diangkat, tapi sebenarnya dijatuhkan," kata Cahyo.

Dalam analisa Cahyo, masuknya Prabowo dan Sandi ke kabinet Jokowi ini membuat keduanya kalah dua kali. 

Berita Terkait : Biar Bisa Bersaing, Sandi Ajak Brand Lokal Kerek Kualitas Produk

Pertama, Prabowo-Sandi dikalahkan Jokowi pada Pilpres 2019. Kalau hanya ini, kata Cahyo, kedua tokoh politik ini bisa saja maju lagi di tahun 2024, apalagi Jokowi tak lagi jadi rival. Kedua, berapa banyak rakyat yang masih percaya kepada dua politisi ini?

“Prabowo dan Sandi dianggap ingkar janji, mengkhianati para pendukungnya, yang dulu berjuang habis-habisan. Mereka bilang berjuang untuk rakyat, tapi ujungnya hanya untuk kepentingan pribadinya. Karakter pasangan ini jatuh dan hancur, oleh perbuatan mereka sendiri,” ucap dia.

Cahyo tidak tahu pasti apakah manuver Jokowi menjadikan Prabowo dan Sandi sebagai menteri itu untuk memperkuat basis dukungan terhadapnya, atau memang untuk menghancurkan karakter dan nama baik bekas penantangnya itu.

Dalam amatan Cahyo, para pendukung Prabowo-Sandi yang besarnya sekitar 45% dari total pemilih Pilpres 2019 tidak serta merta berbalik mendukung. 

Di media sosial maupun dalam di pasar, terminal, pengajian, arisan maupun ruang-ruang publik lainnya, kritik terhadap pemerintah masih lantang. 

Baca Juga : Presiden Ingin Masjid Istiqlal Jadi Tempat Pemberdayaan Umat

Yang jelas, kata Cahyo, Jokowi berhasil mengalahkan suara Prabowo-Sandi dalam Pilpres dan kini berhasil meruntuhkan reputasi keduanya dimata para pendukungnya.

“Apapun yang ada dalam pikiran pak Jokowi, maupun pak Prabowo dan Sandi, yang jelas saat ini Jokowi menang lagi dan Prabowo-Sandi kalah lagi. Kalah dua kali. Selamat Pak Jokowi,” kata Cahyo mengakhiri percakapan.[FIK]