Dark/Light Mode

Isolasi Mandiri Tak Boleh Sembarangan

Yang Positif Covid Jangan Ngumpet, Segera Melapor

Jumat, 22 Januari 2021 06:40 WIB
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19. dr
Reisa Brotoasmoro (Foto: Covid.go.id)
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19. dr Reisa Brotoasmoro (Foto: Covid.go.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Orang yang positif Covid-19, bisa menjalani isolasi mandiri jika tanpa gejala atau gejalanya ringan. Tapi bukan berarti mereka cuma berdiam diri saja. Harus tetap minum obat dan melaporkan kondisinya secara rutin pada fasilitas kesehatan (faskes) setempat.

Dengan pengobatan yang tepat, kematian bisa dicegah. Angka kematian pun bisa ditekan.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 dr. Reisa Brotoasmoro menyatakan, selama ini, banyak orang yang salah kaprah, menganggap isolasi mandiri bisa dilakukan tanpa obat.

“Isolasi mandiri pun tetap butuh obat. Orang tanpa gejala bisa saja dalam perjalanannya nanti menjadi berat,” ujar Reisa dalam talk show RMCo.id bertajuk “Hindari Klaster Keluarga, Disiplin 3M, Yuk!”, kemarin.

Karena itu, meski gejalanya ringan, orang yang positif terpapar Corona tetap harus memeriksa­kan diri ke faskes setempat untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Baca Juga : DPR Puji Bawaslu Mamberamo Raya

Orang yang menjalani isolasi mandiri, lanjut Reisa, harus punya obat yang tersedia untuk 14 hari. Obat itu hanya bisa didapatkan di faskes. Tidak bisa dibeli di sembarang tempat.

Kemudian, semua anggota keluarga harus menjalani tes Polymerase Chain Reaction (PCR).

Bagaimana jika ada anggota ke­luarga lain yang juga positif dengan gejala ringan? Apakah boleh menjalani isolasi mandiri bersama? Jawabannya, boleh.

Sementara anggota keluarga yang negatif, harus dipisah. Tak boleh ada interaksi langsung. Masker juga wajib dikenakan setiap waktu.

Mereka yang menjalani isolasi mandiri juga harus tetap terpantau dengan faskes atau Satgas setempat.

Baca Juga : Dapat Apa Hari Ini?

“Lapor kondisi hariannya seperti apa. Ada keluhan yang lebih berat harus langsung dibawa ke faskes sebelum terlambat,” imbaunya.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH) itu mencontohkan, ada seorang pengidap Covid-19 yang awalnya hanya batuk dan pilek, tiba-tiba kondisinya drop, hingga akhirnya dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU).

“Itu karena dari awal nggak diberi pengobatan, akhirnya jadi gawat banget,” beber Reisa.

Hal seperti itu menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia. Pekan lalu, tiga hari berturut-turut ada 300 orang meninggal per harinya. Bahkan kemarin, angka kematian mencapai 346 per hari.

Dulu pada awal pandemi, 1.000 orang diTanahAir positifCo­rona. Sekarang, dalam tiga hari, bisa 1.000 yang meninggal dunia.

Baca Juga : KPU Provinsi Kaltara Tetapkan Paslon Gubernur-Wagub Terpilih

Hingga kemarin, total kematian akibat Covid-19 mencapai 27.203. “Kenapa bisa demikian? Karena orang awalnya itu telat pengobatan,” sesal ibu dua anak ini.

Dia mengimbau orang yang po­sitif Covid-19 tidak ngumpet. Dia harus segera melapor, baik ke RT atau RW, fasilitas ke­se­hatan, maupun Satgas setempat. Supaya pengobatannya tidak telat. Selain itu, dengan lekas melapor, tidak membahayakan orang lain.

“Kalau diem-diem nularin orang lain, dan orang itu nggak ta­hu terpapar, maka bisa fatal akibatnya. Kita jadi bertanggung jawab atas kematian orang lain. Amit-amit deh, naudzubillah min dzalik,” tandas Reisa.  [JAR]