Dark/Light Mode

Lagi, Laut Kita Dibobol Kapal China

Jangan Tanya Prabowo, Percuma!

Sabtu, 13 Februari 2021 06:30 WIB
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. (Foto: Dok. Kemenhan)
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. (Foto: Dok. Kemenhan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pertahanan keamanan laut Indonesia kembali bobol. Sudah kesekian kalinya, kapal asing, khususnya berbendera China, masuk wilayah NKRI tanpa permisi. Haruskan kita minta komentar Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto? Sepertinya nggak usah, karena percuma saja. Prabowo biasanya diam saja soal yang beginian.

Berdasarkan informasi, kapal perang militer China kepergok sedang berlayar di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) NKRI di perairan Laut Natuna Utara. Aksi kapal perang militer China masuk ke wilayah laut Indonesia terdeteksi oleh KRI Bontang 907. Kapal perang TNI yang berada di bawah Komando Armada (Koarmada) 1 TNI Angkatan Laut pada 4 Februari 2021.

Baca Juga : Beneran Nih, Jenderal?

Tak main-main, kapal perang China yang kepergok itu adalah Kapal Perang Xuchang 536. Kapal bertipe 054A/Jiangkai II-kelas Fregat. Saat dipergoki, kepal perang China itu berada sekitar 82, nautical mile (NM) dari Continental Shelf atau landas kontinen.

Sedangkan jarak antara KRI Bontang 907 dengan Frigat Xuchang 536 cukup dekat, kedua kapal perang cuma berjarak 6,5 NM. Posisi kapal perang China teridentifikasi melalui Automatic Identification System (AIS) yang diaktifkan.

Baca Juga : Pimpinan DPR: Tergantung Keputusan Badan Legislasi

Anggota Komisi I DPR, Syaifullah Tamliha menyayangkan terjadinya lagi kapal asing, khususnya China, masuk ke wilayah NKRI. Dia berharap, pemerintah bertidak tegas kepada kapal asing tersebut.

“Harus diberikan tindakan tegas. Ini sudah kesekian kalinya. Tidak boleh lagi ada toleransi,” kata Tamliha, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Baca Juga : Parpol Mestinya Tiru Transportasi Online

Namun begitu, dia juga menyarankan agar adanya peremajaan terhadap kapal-kapal TNI Angkatan Laut. Jangan sampai, alutsista Indonesia ketinggalan zaman dan sulit mendeteksi ataupun menangkap kapal asing.

“Kapal-kapal kita juga harus difasilitasi dengan amunisi yang memadai,” katanya.
 Selanjutnya