Dark/Light Mode

Peningkatan Literasi Digital Perlu Didukung Keterampilan Berpikir Kritis

Selasa, 23 Februari 2021 20:54 WIB
Peningkatan Literasi Digital Perlu Didukung Keterampilan Berpikir Kritis

RM.id  Rakyat Merdeka - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza mengatakan, peningkatan literasi digital pada siswa perlu didukung adanya keterampilan berpikir kritis.

"Berpikir kritis adalah kemampuan berpikir, menganalisis, dan mengevaluasi, dan mengambil keputusan dari informasi yang sudah didapatkan. Dalam kaitannya dengan literasi digital, kemampuan ini penting untuk mengolah informasi yang telah didapat secara daring," kata Nadia.

Salah satu faktor yang berkontribusi pada rendahnya level literasi di Indonesia adalah rendahnya penekanan pada keterampilan berpikir kritis pada kurikulum sekolah.

Baca Juga : PLN Pulihkan 99 Persen Kelistrikan Terdampak Banjir Di Jabar

Kurikulum 2013 memang memandatkan implementasi kemampuan berpikir tingkat tinggi atau High Order Thinking Skills (HOTS). Akan tetapi, kenyataanya lanjut Nadia, HOTS belum terintegrasi dengan baik dalam pembelajaran di sekolah maupun dalam skema pelatihan guru.

Literasi digital dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menavigasi informasi secara tepat dimana akses komunikasi dan informasi semakin banyak diperoleh melalui teknologi digital, seperti platform internet atau media sosial.

Nadia menambahkan, sangat penting bagi pemerintah untuk mengembangkan kurikulum literasi digital praktis, terutama konten pembelajaran TIK, bagi siswa.

Baca Juga : KPK Perpanjang Penahanan Wali Kota Cimahi Nonaktif Ajay Priatna

Keterampilan langsung ini akan membantu siswa memproses dan memverifikasi informasi yang didapat melalui sumber digital, sehingga membantu mereka memahami materi sekolah dengan lebih baik dan menjadi pengambil keputusan yang lebih baik dalam hidup.

Dalam konteks pandemi Covid-19 ini, sangat penting bagi setiap orang untuk dapat mendapatkan informasi yang baik dari sumber yang dapat dipercaya.

Keterampilan literasi digital akan mengurangi misinformasi dan membantu kebijakan pengendalian pandemi. Sayangnya, kemampuan literasi digital memang belum terlalu diperhatikan dalam kurikulum nasional saat ini.

Baca Juga : PPM Manajemen Berikan Solusi Belajar Saat Pandemi

Pelajaran TIK memang diwajibkan dalam dalam kurikulum 2013, terutama untuk tingkatan SMP dan SMA, akan tetapi konten pembelajaran masih terbatas pada kemampuan menggunakan perangkat komputer dan aplikasi-aplikasi di dalamnya tanpa menitikberatkan bagaimana cara memproses dan menggunakan informasi yang didapat dari berbagai sumber digital secara kritis.

Menurut Nadia, kurangnya meratanya akses internet di berbagai wilayah di Indonesia dan keragaman kondisi sosial ekonomi di berbagai daerah merupakan kendala struktural yang menghambat peningkatan literasi digital.
 Selanjutnya