Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tingkat Kematian Masih Tinggi

Masyarakat Tak Usah Keluyuran Dulu Deh...

Rabu, 10 Maret 2021 05:34 WIB
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Doni Monardo dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 di Jakarta. (Foto : Tangkapan Layar Youtube BNPB Indonesia).
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Doni Monardo dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 di Jakarta. (Foto : Tangkapan Layar Youtube BNPB Indonesia).

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengungkapkan, tingginya angka kematian akibat virus Corona masih menjadi tantangan terbesar dalam penanganan pandemi ini.

Hingga saat ini, angka ke­matian Indonesia masih di atas angka global, yakni 0,48 persen. Meski semakin turun seiring peningkatan kesembuhan.

Saat kasus pertama, angka ke­matian Indonesia mencapai seki­tar sembilan persen. Beberapa provinsi menjadi penyumbang angka kematian tertinggi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah dan DKI Jakarta.

Berita Terkait : Airlangga Pede Permintaan Properti Bakal Tancap Gas

“Kalau kumulatif angkanya secara total per tahun peringkat pertamanya adalah Jawa Timur,” ujar Doni dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 di Jakarta, kemarin.

Dia menyebutkan, selama setahun pandemi, virus ini menyebabkan kematian bagi mereka yang punya komorbid atau penyakit bawaan, seperti ginjal, jantung, diabetes dan beberapa penyakit lain.

Terbanyak, berdasarkan pen­jelasan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, 92 persen yang meninggal memiliki komorbid diabetes.

Berita Terkait : Sudahi Saling Sikut, Sekarang Waktunya Saling Menguatkan

“Kalau setiap orang tahu risikonya kita bisa melindungi lebih banyak mereka yang kelompok rentan,” jelas Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut.

Menurut Doni, dari tingginya angka kematian, masyarakat seharusnya bisa belajar melaku­kan pembatasan aktivitas atau mengurangi mobilisasi untuk mencegah penularan Corona.

Setiap libur panjang usai, mulai dari Idul Fitri, 17 Agustus, sampai libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), jumlah kasus se­lalu melonjak. Puncaknya, kasus aktif mencapai 176 ribu. “Itu puncak kasus aktif dalam satu tahun terakhir,” ungkap Doni.

Berita Terkait : Libur Isra Mi`raj Dan Nyepi, Dilarang Pergi Ke Luar Kota

Jumlah kasus aktif itu akhirnya berhasil ditekan lewat kebi­jakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala Mikro.
 Selanjutnya