Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Ingat, Merawat Papua Sama Dengan Merawat NKRI

Selasa, 13 April 2021 07:30 WIB
Bedah Buku Kapolda Papua Barat Irjen Tornagogo Sihombing berjudul Menyulam NKRI, Merawat Rasa Aman, Senin (12/4)/Ist
Bedah Buku Kapolda Papua Barat Irjen Tornagogo Sihombing berjudul Menyulam NKRI, Merawat Rasa Aman, Senin (12/4)/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Tanah Papua dinilai sebagai mozaik Indonesia yang harus dirawat dan dipertahankan. Persoalan yang terjadi di Provinsi Papua maupun Papua Barat berakar dari persoalan identitas sosial yang perlu diselesaikan.

Hal itu disampaikan Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk dalam Bedah Buku Kapolda Papua Barat Irjen Tornagogo Sihombing berjudul Menyulam NKRI, Merawat Rasa Aman, Senin (12/4).

Hamdi mengatakan, Indonesia merupakan mozaik yang sangat beragam dari orang-orangnya serta etinisnya. Kekayaan ini tentu harus dikelola dengan baik untuk merawat NKRI.

“Merawat NKRI itu tugas kita bersama. Jadi tantangannya, kalau kita bisa merawat Papua itu artinya kita bisa merawat NKRI secara keseluruhan. Papua adalah mozaik Indonesia yang sangat penting,” kata Hamdi.

Banyak pendapat yang menyebut, persoalan Papua sudah banyak menghabiskan dana yang cukup besar dan pembangunan fisik yang masif, tetapi belum juga selesai. Pandangan itu, menurutnya keliru. Persoalan  di Papua adalah terkait identitas sosial.

Baca juga : Perpusnas Jalin Kerja Sama Dengan Perpustakaan Kazakhstan

“Ini harus ada titik kesimbangan yang pas. Nasionalisme Indonesia, itu loyalitas NKRI tidak bisa ditawar lagi. NKRI final. Penghargaan terhadap identitas lokal itu penting. Harus dicari pengaturan publik yang pas,” jelasnya

Senada dengan Hamdi, Irjen Tornagogo Sihombing menjelaskan, Papua dan Papua Barat merupakan mozaik Indonesia yang perlu dirawat. 

“Memperhatikan Papua sama dengan memperhatikan negara secara utuh. Tidak benar jika kita tidak memikirkan Papua, kita mengaku memikirkan Indonesia,” kata Tornagogo.

Menurutnya, tidak ada satu teori pun yang dapat menyelesaikan konflik di mana pun termasuk konflik yang terjadi di tanah Papua. Kata Tornagogo, dengan menerpakan kasih dan damai, bisa merawat keberagaman hingga penyelesaian masalah yang ada di Papua

Dia pun menjelaskan persoalan utama di Papua Barat. Persoalan utama tersebut adalah penyalahgunaan miras, perusakan lingkungan serta revitalisasi adat termasuk kasus-kasus gerakan separatis.

Baca juga : Diluncurkan, 24 Jam Meraih Berkah Bersama Dewan Dakwah

“Kami berharap bisa lebih mudah menerapkan semboyan, Waaja Keema Nene Kapoka  yang artinya melayani dengan hati dan membangun dengan kasih,”  jelasnya.

Buku setebal  251 halaman ditulis berdasarkan buah pemikiran Tornagogo selama menjabat sebagai Kapolda Papua Barat Desember 2019.

Bekerja sama dengan penerbit Arsip Metro, buku dibagi enam bab yang terdiri dari Kilau Emas di Pegunungan, Dijajah Miras, Separatis KNPB di Papua Barat, Kejahatan dan Peradaban , “Mantera” Manu Yaba Nonti dan Zamrud Raja Ampat.

Sementara, Guru Besar Kriminologi UI Muhamad Mustofa menjelaskan, banyak kebijakan publik seragam dari Sabang sampai Marauke. Padahal Indonesia sangat beragam dengan adat dan budaya. 

Kebijakan yang bercirikan pluralisme termasuk hukum nasional, kata Mustofa, harus mengakui pluralisme.

Baca juga : Lantik Pengurus PBSI, Menpora Siap Kerja Sama Meraih Prestasi

“Slogan Bhinneka Tunggal Ika sering disebutkan tapi kebijakan-kebijakannya tidak mencerminkan,” jelasnya.  

Dia menyoroti persoalan konsumsi miras di Papua Barat yang dinilai sebagai bentuk manipulasi budaya oleh pendatang yang merusak tradisi dan adat. Oleh karena itu, direkomendasikan untuk melakukan revitalisasi budaya. Meski tidak mudah dihilangkan secara seketika, perlu proses yang panjang untuk kebijakan yang ditawarkan

“Bukan melarang secara total tetapi harus ada pengaturan. Pengaturan itu harus disosialisasikan, siapa yang mensosialisasikan? Tokoh agama, adat,” jelasnya.

Menurutnya, buku Menyulam NKRI, Merawat Rasa Aman merupakan hasil penelitian kualitatif yang bersifat komprehensif tentang gejala gangguan keamanan ketertiban masyarakat di wilayah Papua Barat. 

“Ini data yang bermanfaat bagi pencarian jalan keluar dalam menghadapi masalah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, yang dapat dijadikan landasan pembuatan kebijakan di tingkat Papua Barat,” kata Mustofa. [KAL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.