Dark/Light Mode

Masyarakat Kota dan Kesakitan Sosial

Senin, 26 April 2021 16:01 WIB
Dr. Tantan Hermansah
Dr. Tantan Hermansah

RM.id  Rakyat Merdeka - Heboh kasus mengenai beberapa orang yang petantang petenteng menunjukkan seolah-olah dirinya gagah dan hebat, kerap kali menjadi dinamika sendiri di masyarakat. Meski peristiwanya terekam di kota, namun kasus-kasus seperti ini tidak bisa dipilah sebagai fenomena perkotaan saja, sebab peristiwa seperti seperti ini bisa terjadi di mana saja.

Mengapa? Karena faktor utamanya tunggal: manusia. Manusia adalah subyek sosial yang dalam beberapa hal mengekspresikan diri dalam ruang sosial yang berhimpitan dengan banyak hal: kebutuhan, keinginan, harapan, dan berbagai kepentingan. Akibatnya, semua hal-hal abstrak itu pun kerap berkontestasi dengan hal lain yang sifatnya fisik. Ketika saling himpit terjadi sementara ruang sosial terbatas, maka mau tidak mau akan ada seseorang atau subyek lain yang terpental keluar arena.

Baca juga : Pesantren Kilat Bisa Bangun Literasi Digital Pancasila

Bedanya, sekarang era media sosial di mana banyak orang memiliki akses kepada peristiwa sensasional asal mendapatkan momen yang pas. Ketika momen itu didapat, sudah pasti dia akan menambang popularitas. Di sisi lain, kadang popularitas saat ini dibutuhkan seseorang, karena di dalamnya seperti melekat adanya otoritas.

Lihat saja, da’i yang populer kemudian dianggap lebih memiliki otoritas ketimbang yang tidak dikenal. Hal yang sama terjadi pada ruang lain: artis, penulis, YouTuber, pengajar, motivator dan sebagainya. Semakin seseorang populer, maka ia seperti memiliki mandat kharismatik atas satu isu tertentu.

Baca juga : Kamus Sejarah Tak Muat Tokoh NU, Kiai Said: Bukan Salah Nadiem!

Guru populer misalnya akan lebih dikenal ketimbang guru biasa, meski bisa jadi secara metodologis, masih bagus guru biasa itu. Motivator terkenal, setiap katanya akan menjadi inspirasi ketimbang pembicara yang masih merintis, meski secara materi bisa jadi sama. Begitulah hukum popularitas; tanpa hakim dan jaksa, karena semua seperti sudah ada pada alamnya.

Sementara itu ada masalah lain dari popularitas. Jati diri dari popularitas tidak merujuk kepada sifat dari suatu peristiwa: positif atau negatif. Ia akan memperlakukan suatu peristiwa sesuai momentumnya. Sederhananya, mereka yang populer karena perilaku negatif atau perilaku positif, di hadapan popularitas, posisinya sama saja.

Baca juga : Kiprah Kartini KAI, Semangat Majukan Kereta Api Indonesia

Sehingga jika kemudian ada orang yang tiba-tiba menjadi dikenal karena sikap koboinya, sangat mungkin ia akan menambang popularitas, meski awalnya dari tindakan negatif. Dengan popularitas yang dimilikinya, ia bisa seperti mendapatkan modal sosial yang kemudian bisa ditransformasi menjadi modal ekonomi bahkan politik.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.