Dark/Light Mode

Ada Yang Ngomong Aneh-aneh Soal KRI Nanggala-402

Tolong, Jaga Cangkemmu!

Selasa, 27 April 2021 07:50 WIB
Kapal Selam KRI Nanggala-402. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat)
Kapal Selam KRI Nanggala-402. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat)

 Sebelumnya 
Polisi yang bertugas sebagai bintara Polsek itu tidak hanya terancam pelanggaran kode etik, melainkan juga pidana. Alasannya, tindakan polisi di Yogyakarta itu berpotensi merusak hubungan antarinstansi.

Saat ini pemeriksaan dari tim siber dan Propam sedang berjalan. Slamet menduga, oknum polisi itu mengalami depresi. Polda Yogyakarta juga sudah berkoordinasi dengan TNI AL. “Semoga semua tetap kondusif,” ucap Slamet.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri tengah mengusut akun yang diduga membuat komentar negatif terkait gugurnya prajurit TNI yang tenggelam dalam kapal selam KRI Nanggala-402 di Perairan Bali. Diduga, ada 7 akun yang berkomentar kurang senonoh terhadap kru TNI yang gugur tersebut.

Baca juga : Keponakan Prabowo Gugur Bersama KRI Nanggala-402, Ayahnya Juga Wafat Saat Tugas Di Timor Timur

“Setelah dilakukan pendalaman, dua akun tersebut anonymous yang ditindaklanjuti dengan pengajuan pemblokiran kepada Kemenkominfo. Lima sisanya dilakukan pengusutan,” kata Direktur Tindak Pidana Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi, kemarin.

Tiga akun yang diusut adalah akun Facebook bernama Fajarnnzz, Ahmad Khoizinudin juga lagi dilakukan pendalaman oleh Subdit 2 Direktorat Tindak Pidana Bareskrim Polri. Lalu, akun yang diusut adalah WhatsApp 62819912xxxxx. Selanjutnya, akun Facebook bernama Imam Kurniawan dan Jhon Silahoi.

Bagaimana tanggapan psikolog? Psikolog Tika Bisono mengatakan, pihak-pihak yang berkomentar senonoh terhadap KRI Nanggalan-402 adalah orang-orang yang tidak memiliki empati dan simpati.

Baca juga : Alhamdulillah, Pendidikan Anak Keluarga KRI Nanggala Dijamin Sampai Sarjana

Menurut dia, dalam ilmu psikologi empati merupakan bagian dari kecerdasan emosi. Secara lebih luas, ia merupakan bagian dari kematangan seseorang dalam merespons peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

“Jadi selain empati juga ada simpati. Nah, simpati itu sebenarnya sebuah rasa atau proses mental bukan hanya belas kasihan, tapi di sini kan ada penghormatan terhadap TNI,” katanya.

Anggota DPR, Nasril Bahar menilai, komentar seperti itu sangat tidak etis, dan melukai keluarga korban. Menurutnya, perlu kedewasaan masyarakat dalam menggunakan sosial media. Sebab, 53 awak KRI Nanggala-402 merupakan syuhada dalam menjaga keamanan negara.

Baca juga : Presiden Jamin Pendidikan Anak Prajurit KRI Nanggala 402 Sampai Sarjana

“Jangan anggap syuhada itu ketika berperang saja. Kita harus berprasangka baik. Kalo perlu kita doakan agar amal ibadah mereka diterima Tuhan. Bukan justru sebaliknya, berkomentar yang malah menyakiti keluarga korban. Sangat tidak bijak itu,” ucap politisi PAN itu.

Netizen lainnya juga menganggap komentar seperti itu keterlaluan. “Lagian, bisa-bisanya musibah dijadiin bercandaan,” kata @tesadarma. “Padahal sudah banyak banget yang dibawa ke jalur hukum soal komen-komen di sosmed ini. Tapi tetep aja netizen begitu-begitu aja,” timpal @kalulanya. “Biadab. Tangkap dan penjarakan, manusia berhati iblis tersebut,” pinta @edymulyono948.

Ada juga yang minta jaga cangkem saat berkomentar. “Nggak punya ahklak. Seluruh Nusantara berduka adanya musibah KRI Nanggala 402. Hukum dunia berlaku, hukum akhirat juga masih tetap berlaku,” pesan @IKemashadi. “Tangkap dan jangan kasih ampun. Jangan kelar juga pake materai,” harap @DavidHarun5. “Entar kita lihat ekspresi mukanya, paling pada mewek,” pungkas @mirzabianconeri. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.