Dark/Light Mode

Haedar Minta Warga Muhammadiyah Bermedsos Dengan Akhlak

Senin, 24 Mei 2021 22:33 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir. (Foto: Ist)
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Netizen Indonesia dikenal paling bar-bar di jagad media sosial. Ini adalah kesimpulan rilis survei Microsoft soal Digital Civility Index (DCI) pada 2020 lalu.

Dari hasil survei yang melibatkan 16.000 responden di 32 negara itu, kualitas kesopanan netizen Indonesia menempati urutan ke-29 dari 32 negara. Selain itu, di Asia Tenggara, netizen Indonesia menempati posisi pertama untuk kualitas paling tidak beradab.

Baca juga : Makin Lengket Dengan Sutradara

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menganggap penting bagi Muhammadiyah untuk lebih giat menebarkan dakwah pencerahan dan menguatkan nilai-nilai Islam sebagai agama peradaban melalui berbagai aktivitasnya.

"Di sini pentingnya kita terus mengkaji pemikiran Keislaman kita secara bayani, burhani, dan irfani. Sebagai bagian dari realitas yang bersifat revolusi sains dan teknologi itu, kita juga berhadapan secara praksis dengan apa yang kita sebut sebagai simulakra (dunia tipuan) media sosial saat ini," papar Haedar dalam forum Halalbihalal PP Muhammadiyah 1442 H, Minggu (23/5) lalu.

Baca juga : Pemerintah Daerah Harus Sigap Tangani Arus Balik

Haedar menganggap media sosial bagaikan pisau bermata dua. Satu sisi mampu bermanfaat untuk kepentingan dakwah, ilmu pengetahuan, interaksi yang lebih canggih. Namun pada sisi yang lain mampu mereduksi akal budi dan keadaban.

"Dan disebutkan bahwa 68 persen ketidaksopanan justru dilakukan oleh yang sudah berusia dewasa. Yang banyak dikembangkan adalah hoaks dan segala macam kebencian dan diskriminasi," imbuhnya.

Baca juga : Dibiayai Pemerintahnya, Masjid-masjid di China Bersolek Jelang Idul Fitri

Haedar berpesan agar warga Muhammadiyah tidak ikut larut dalam keriuhan di media sosial dengan cara-cara yang tidak menggambarkan sikap dan akhlak yang tercerahkan.

"Poin ini penting bagaimana kita sebagai organisasi dakwah menghadirkan dakwah yang membawa dan membangun keadaban publik. Normatifnya kita sudah tahu, paham bahwa Islam itu agama yang mengajarkan akhlakul karimah tapi kemudian bagaimana penerjemahannya dalam tablig dan dakwah," pungkas Haedar. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.