Dark/Light Mode

Lanjutan Sidang Terdakwa Edhy Prabowo

Narik Uang Tunai Rp 4,7 Miliar Yang Mengendap Rp 3,4 Miliar

Kamis, 10 Juni 2021 06:40 WIB
Terdakwa kasus dugaan suap izin ekspor benih lobster tahun 2020 yang juga mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (kiri) berdiskusi dengan salah satu kuasa hukumnya di sela sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (9/6/2021). (Foto: ANTARA /Aditya Pradana Putra)
Terdakwa kasus dugaan suap izin ekspor benih lobster tahun 2020 yang juga mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (kiri) berdiskusi dengan salah satu kuasa hukumnya di sela sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (9/6/2021). (Foto: ANTARA /Aditya Pradana Putra)

RM.id  Rakyat Merdeka - Akuntan forensik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Miftakh Aulani Rahman membongkar aliran duit rasuah ekspor benih bening lobster (benur) yang ditampung di rekening PT Aero Citra Kargo (ACK). Miftakh mengatakan, ada dana Rp 24,6 miliar di rekening PT ACK. Uang ini kemudian mengalir ke sejumlah pihak.

Miftah dihadirkan sebagai saksi perkara suap pengurusan izin ekspor benur dengan terdakwa mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo.

“Banyak aliran dana yang melewati beberapa rekening sampai kemudian ke penerima akhir, tapi jika kita lihat siapa saja sih sipenerima akhir dari transaksi keseluruhan Rp 24 miliar ini,” kata auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang kini ditugaskan di KPK.

Berita Terkait : Beli Vila, Edhy Pakai Nama Pembantu Di Rumah Dinas

Miftakh juga merinci ada penarikan uang dari PT ACK. Yaitu penarikan uang tunai sebesar Rp 4,7 miliar. Uang itu kemudian berpindah ke rekening Amri. “Tersisa saldo mengendap sekitar Rp 3,4 miliar,” bebernya.

Kemudian, terdapat keterangan transfer ke rekening Ainul Faqih yang merupakan staf pribadi Iis Rosita Dewi, istri Edhy Prabowo.

Uang itu ditransfer dengen keterangan pembelian barang sebesar Rp 2,9 miliar. Lalu penarikan tunai yang tidak teridentifikasi sebesar Rp 1,969 miliar. Ada pula belanja atau point of sell yang dilakukan selama periode kunjungan di Amerika sebesar Rp 873 juta.

Baca Juga : Jalan Mampang Menuju Blok M Warna Merah Tua

“Kemudian transfer kepada Ismail sebesar Rp 782 juga, kemudian transfer kepada Astra International untuk pembelian mobil dari rekening Amir atau Bahtiar sebesar Rp 543 juta,” terangnya.

Lebih lanjut Miftakh membeberkan, ada transfer kepada 36 nomor rekening yang nilainya di bawah Rp 40 juta. Di antaranya untuk Husni Mubarok, Anggia Tesalonika Kloer, Firda Yusri hingga Sri Rejeki, ibu Edhy Prabowo). Totalnya dana yang ditransfer mencapai Rp 502 juta.

Dalam perkara ini, Edhy Prabowo didakwa menerima suap mencapai Rp 25,7 milar. Rasuah berkaitan dengan pemberian izin ekspor dan budidaya benur .

Baca Juga : Renang Bareng Anak Jennifer Jill

Suap itu diterima lmelalui Staf Khusus Andreau Misanta Pribadi dan Safri; sekretaris pribadi Amiril Mukminin; staf pribadi Iis Rosita Dewi bernama Ainul Faqih dan Siswadhi Pranoto Loe, Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) sekaligus pemilik PT ACK.

Kasus ini bermula Edhy Prabowo menerbitkan izin budidaya lobster untuk mencabut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 56/PERMEN-KP/2016 tanggal 23 Desember 2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp) dan Ranjungan (Portunus spp) dari wilayah negara Republik Indonesia.

Keran ekspor benur pun dibuka. Edhy menunjuk Andreau dan Safri memimpin tim uji tuntas terhadap perusahaan yang mengajukan izin ekspor benur.Untuk mempercepat penerbitan izin, perusahaan diminta menyerahkan sejumlah uang kepada PT ACK. Duit yang dikumpulkan eksportir digunakan untuk membiayai hidup mewah Edhy Prabowo dan istrinya. Dari membeli jam tangan Rolex limited edition, shopping di luar negeri hingga wine kegemaran Edhy. [BYU]