Dark/Light Mode

Merekonstrusi Persepsi Siswa Mengenai Kecerdasannya

Jumat, 11 Juni 2021 14:29 WIB
Dr. Muhtadi, Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam Fidikom UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dr. Muhtadi, Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam Fidikom UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 2018, Programme for International Student Assessment (PISA) melakukan tes pada lebih dari dua pertiga murid Indonesia. Hasilnya, mereka setuju, bahwa kecerdasannya tidak dapat diubah.

Berita Terkait : Kota dan PTM

Karena itu para siswa dikategorikan dalam kelompok "fixed mindset". Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) melaksanakan kegiatan PISA, yakni penilaian tingkat dunia yang diselenggarakan tiga-tahunan, untuk menguji kinerja akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun. Hasil studi PISA biasanya merupakan potret pendidikan perbandingan negara-negara di dunia pada aspek membaca, sains dan matematika.

Berita Terkait : Prof. Azra: Putusan MK Sarat Intervensi

Dampak hasil studi PISA bagi dunia pendidikan di Indonesia, terutama peserta didik setuju, bahwa kecerdasan tidak dapat ditingkatkan pada level lebih tinggi. Tentu saja persepsi ini akan menurunkan kualitas pendidikan, dan proses pembelajaran akan sia-sia. Meski didukung oleh guru, metode, materi dan sarana serta prasarana yang terbaik.

Baca Juga : Syukurlah, Benzema Pulih Dan Siap Tempur Lawan Jerman

Hasil studi bahwa kecerdasan itu sudah tidak dapat diubah akan menjadikan peserta didik memiliki sikap dan tindakan, antara lain; takut dan tidak tahan dengan tantangan, mudah menyerah dan menerima kemampuan yang standar saja, tidak memiliki semangat untuk maju dan tidak berkeinginan menjadi hebat dalam bidang apapun. Karena mereka sudah menakar dirinya, tidak dapat melaksanakan sesuatu atau mencapai tujuan yang tinggi karena kecerdasannya tidak bisa diotak-atik lagi.
 Selanjutnya