Dark/Light Mode

Merekonstrusi Persepsi Siswa Mengenai Kecerdasannya

Jumat, 11 Juni 2021 14:29 WIB
Dr. Muhtadi, Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam Fidikom UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dr. Muhtadi, Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam Fidikom UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 Sebelumnya 
Hal di atas tentu merupakan tantangan bagi para stakeholder pendidikan. Mereka perlu melakukan gebrakan, agar peserta didik tidak memiliki persepsi bahwa kecerdasan itu sudah paten sehingga tidak dapat di-upgrade lagi. Tugas ini bukan hal yang ringan. Karena mengubah kesadaran memerlukan kerja keras, sistematis dan berkelanjutan. Tugas ini perlu dilakukan oleh stakeholder pendidikan yang memiliki komitmen yang kuat, berintegritas dan melayani.

Berita Terkait : Kota dan PTM

Setidaknya, stakeholder pendidikan dapat melakukan; pertama, merancang ruang kelas dan sudut-sudut ruangan di sekolah, pintu gerbang sekolah dihiasi dengan kata-kata motivasi atau ajakan untuk menjadi individu yang sukses, berilmu dan berakhlak mulia. Misalnya, “membaca buku dapat membuka jendela dunia”, “gagal itu biasa, bangkit dari gagal itu aktivitas yang luar biasa” dan lainnya.

Berita Terkait : Prof. Azra: Putusan MK Sarat Intervensi

Sehingga kata-kata itu setiap hari akan mereka temukan. Lama kelamaan, akan mengalami proses internalisasi pada kesadaran peserta didik. Tumbuh kesadaran dan sikap baru, bahwa menjadi yang terbaik dan hebat adalah hak yang dapat diraih dengan bekerja keras, cerdas, inovatif dan penuh ketekunan.

Baca Juga : Syukurlah, Benzema Pulih Dan Siap Tempur Lawan Jerman

Kedua; memperkuat peran guru Bimbingan Konseling (BK). Guru BK ini adalah individu yang ramah, mengayomi, cerdas serta kreatif. Sehingga mereka dapat melakukan pendampingan dan memberikan bimbingan dengan motivasi yang bertenaga dan inspiratif kepada siswanya. Dimana mereka dapat merasakan motivasi untuk senantiasa berprestasi dan suka tantangan dalam meningkatkan skill dan kecerdasannya.
 Selanjutnya