Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kasus Bansos Covid Kemensos

Koperasi TNI Jadi Korban PHP Anak Buahnya Juliari

Selasa, 15 Juni 2021 06:50 WIB
Terdakwa mantan Menteri Sosial Juliari Batubara (tengah) mendengarkan keterangan saksi pada sidang lanjutan kasus korupsi Bantuan Sosial (Bansos) Covid-19 di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (14/6/2021). (Foto: ANTARA /Indrianto Eko Suwarso)
Terdakwa mantan Menteri Sosial Juliari Batubara (tengah) mendengarkan keterangan saksi pada sidang lanjutan kasus korupsi Bantuan Sosial (Bansos) Covid-19 di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (14/6/2021). (Foto: ANTARA /Indrianto Eko Suwarso)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pejabat Kementerian Sosial (Kemensos) tak pandang bulu kepada pihak yang berminat menggarap proyek Bantuan Sosial (Bansos) Covid-19. Semuanya diminta menyerahkan uang untuk mendapatkan alokasi. Termasuk koperasi TNI.

Yang lebih kebangetan, setelah menyerahkan uang ternyata tidak mendapat alokasi. Pihak yang merasa tertipu pun meminta duitnya dibalikin.

Ini terkuak dari kesaksian Ketua Pusat Koperasi Yustisia Adil Makmur Badan Pembinaan Hukum (Babinkum) TNI Letnan Kolonel (Chk) Irman Putra.

Berita Terkait : PAN Jadi Ketularan Galak

Irman yang menjabat Inspektur Pengawasan Umum pada Inspektorat Babinkum TNI itu menuturkan, koperasinya berminat terlibat dalam penyaluran Bansos Covid. Koperasi Yustisia Adil Makmur pun mendapat alokasi penyaluran Bansos tahap 5,6 dan 7.

Setelah penyaluran selesai, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemensos Matheus Joko Santoso mengajak Irman bertemu.

“Bertemu di dekat Halim, Cafe Bale Bengong. Pertemuan di sana dibicarakan tentang (paket) itu harus (ada) kontribusi,” Irman bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Berita Terkait : Yasonna Perintahkan Anak Buah Perketat Pintu Keluar Masuk

Irman menolak permintaan Joko untuk memberikan uang. “Berapa (uang yang) diminta?” tanya jaksa KPK. “Enggak ada patokan, cuma saya enggak mau kasih,” jawab Irman.

Joko terus merayu agar Irman memberikan duit. Ia mengiming-imingi akan memberikan alokasi kepada Koperasi Yustisia Adil Makmur untuk tahap berikut.

Irman akhirnya bersedia memberikan uang. Ia mendatangi kantor Joko untuk menyerahkan uang Rp 250 juta. Belakangan, ketahuan Joko hanya pemberi harapan palsu alias PHP.

Berita Terkait : Kejagung Bantu Kemensos Tagih Vendor Nakal

“Setelah diserahkan kemudian ternyata enggak ada (alokasi). Kita hubungi, datangi ke kantor, (Joko) menghindar,” tutur Irman.
 Selanjutnya