Dark/Light Mode

Varian Delta Bisa Nular Dalam Hitungan Detik, Bener Nggak Sih?

Jumat, 25 Juni 2021 21:07 WIB
Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp. PD- KHOM (Foto: Instagram)
Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp. PD- KHOM (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Belakangan, marak pemberitaan yang menyebut varian Delta dapat menginfeksi dalam hitungan detik. Bahkan, hanya dengan berpapasan. Bener nggak sih? 

Terkait hal ini, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp. PD- KHOM yang akrab disapa Prof. Beri menegaskan, info tersebut bukanlah candaan.

Berita Terkait : Waspada, Varian Baru Gampang Nular Lewat Hembusan Napas

Dia bilang, itu adalah hasil tracing di Australia, untuk kasus-kasus baru. Mereka menyelidiki penularan yang terjadi di Bondi Junction Westfield, sebuah pusat perbelanjaan, yang menunjukkan bagaimana cepatnya penularan Delta.

"Hal itu menjadi concern para ahli. Apalagi, kejadiannya tidak terjadi sekali saja di sana. Makanya, pejabat kesehatan di Australia mengingatkan, virus tidak lagi butuh waktu hingga 15 menit. Tapi, dimungkinkan bisa dalam hitungan detik," kata Prof. Beri via laman Instagramnya, Jumat (25/6).

Baca Juga : Kementan Genjot Ekspor Sarang Burung Walet Ke Amerika

Lantas, bagaimana transmisi kontak sekilas itu bisa terjadi? Mengutip pernyataan Ahli Virologi Universitas Griffith Australia Lara Herrero, Prof. Beri menjelaskan, dalam momen transmisi yang terekam dalam CCTV, virus didapati bertahan di udara cukup lama. Sehingga, seseorang bisa menghirupnya dan terinfeksi.

"Transmisi kontak sekilas ini telah didukung oleh pernyataan beberapa tokoh. Termasuk, Menteri Kesehatan New South Wales Brad Hazzard dan Ahli Epidemiologi Dunia Eric Feigl-Ding," tutur Prof. Beri.

Baca Juga : Gelar Diklat Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan, KPK Gandeng Kemenhan

Secara global, varian Delta memang menyebabkan lonjakan kasus di beberapa negara. Termasuk, Indonesia.

"Kabar baiknya, sebagian besar vaksin yang beredar, masih bisa bekerja melawan varian Delta," pungkas Prof. Beri. [SAR]