Dark/Light Mode

Covid-19 Varian Super Berpotensi Muncul Di Indonesia

Bukan Nakut-nakutin Lho Waspada, Wajib Hukumnya

Senin, 26 Juli 2021 05:19 WIB
Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman. (Foto : Dok. Rakyatmerdeka/RM.id).
Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman. (Foto : Dok. Rakyatmerdeka/RM.id).

RM.id  Rakyat Merdeka - Potensi munculnya varian baru Covid-19 yang lebih mematikan atau yang dikenal dengan varian Super cukup besar. Apalagi, kasus penularan Covid-19 di Indonesia masih tinggi.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan, mutasi varian baru bisa muncul dari negara yang tidak mampu menekan laju penularan virus. Dan Indonesia, kata dia, berpotensi cukup besar menghasilkan Covid-19 varian Super.

“Karena pandemi kita tak terkendali,” katanya.

Berita Terkait : Kebutuhan Rakyat Dibantu, 3T Ditingkatkan, Ini Baru Mantap

Hingga kini, secara global sudah ditemukan empat varian varian virus Corona. Yakni; varian Alpha, varian Beta, varian Gamma dan varian Delta. Nama terakhir disebut-sebut pertama kali diidentifikasi di India.

Dicky menyebut, indikator wabah virus Corona tidak terkendali apabila angka positivity rate melebihi standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Yakni sebesar 5 persen.

Untuk diketahui, positivity rate merupakan perbandingan antara jumlah kasus positif Covid-19 dengan jumlah tes yang dilakukan. Dan angka positivity rate Indonesia belakangan ini berkali-kali lipat lebih tinggi ketimbang standar WHO tersebut.

Berita Terkait : 1-2 Juta Vaksin Per Hari, Bisa!

Dicky menjelaskan, ada tiga kriteria mutasi virus Corona varian baru masuk kategori yang mengkhawatirkan atau varian Super. Pertama, varian ini memiliki kecepatan penularan. Kedua, kemampuan menimbulkan gejala parah, bahkan kematian.

“Terakhir, varian Super mampu menurunkan efikasi antibodi setelah vaksinasi,” tuturnya.

Dicky menilai, masyarakat Indonesia saat ini masih buta dengan situasi Corona yang ada di negaranya sendiri. Terlebih, upaya untuk mendeteksi penularan mutasi virus Corona atau whole genome sequencing yang menyebar saat ini masih amat terbatas.

Berita Terkait : Netizen Rame-rame Setuju Tes Covid-19 Gratis

Meski demikian, Dicky menilai saat ini masih sulit untuk memastikan apakah sudah ada mutasi varian baru virus Corona yang dilahirkan di Indonesia. Dia hanya mengatakan, potensi tersebut masih sangat mungkin terjadi.

Dicky mengingatkan upaya terpenting mencegah munculnya varian baru yang lebih berbahaya dengan menghambat penyebarannya. Salah satunya tetap melaksanakan strategi 3T (Testing, Tracing dan Treatment) secara luas.

“Lalu jangan lupa protokol kesehatan (prokes), vaksinasi dan visitasi. Tanpa adanya itu, banyak kasus Covid-19 terlewatkan yang artinya terjadi pengabaian dalam mencegah penyebaran di komunitas,” kata Dicky.
 Selanjutnya