Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Kasus Kematian Kemarin Tembus 2.048
PPKM Diperpanjang Terasa Begitu Tepat
Rabu, 11 Agustus 2021 07:50 WIB
Sebelumnya
Dikeluarkannya data angka kematian pada indikator kematian disayangkan banyak pihak. Salah satunya Epidemiolog asal Universitas Griffith Australia Dicky Budiman.
Dicky menilai, kasus kematian Corona di Indonesia memang masih tinggi. Sayangnya, pemerintah justru mengeluarkan angka kasus kematian dari indikator penilaian penanganan Corona.
Dia menilai, keputusan pemerintah itu akan membuat penanganan Corona bakal semakin gelap. “Angka kematian itu indikator keparahan suatu wabah. Kalau indikator menentukan tingkat keparahannya hilang, kita enggak tahu seberapa parah kondisinya,” ujar Dicky saat dikontak, tadi malam.
Baca juga : Angka Kematian Kembali Tembus 2.000, Testing Di Bawah 100 Ribu
Menurut dia, dengan keputusan ini, akan semakin banyak kematian yang tidak terdeteksi. Selain itu akan berdampak pada penyusunan strategi penanganan pandemi di daerah
Rakyat Diminta Sabar
Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal (Purn) Moeldoko memastikan, pemerintah terus berusaha menekan laju penularan Corona. Salah satunya dengan PPKM.
Baca juga : PPKM Diperpanjang Lagi, Rupiah Makin Loyo
Karena itu, Moeldoko meminta, masyarakat sabar terkait perpanjangan PPKM. Menurut dia, PPKM telah mampu menekan laju penularan Corona. Dia mencontohkan, keterisian tempat tidur (BOR) di RS Darurat Wisma Atlet yang sebelumnya mencapai 90 persen pada pertengahan Juli 2021 berangsur turun signifikan mencapai 25 persen.
Moeldoko melanjutkan, selain PPKM, pemerintah juga ada meningkatkan testing, tracing dan treatment atau yang biasa disingkat 3T. Kemudian, mendorong angka kesembuhan melalui bantuan obat-obatan khususnya bagi pasien isolasi mandiri, menggulirkan program bantuan sosial bagi masyarakat dan melaksanakan program vaksinasi bagi seluruh warga tanpa terkecuali. “Di saat pandemi ini, yang diperlukan adalah gotong royong, kerja nyata, bukan diskusi, bukan mencaci, bukan melihat segala sesuatu dari sisi negatif,” kata Moeldoko.
Lebih lanjut, mantan Panglima TNI itu menjelaskan sampai dengan akhir 2021, pemerintah Indonesia secara total akan menerima 183 juta dosis vaksin yang akan datang secara bertahap. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya