Dark/Light Mode

Kasus Landai, Prokes Nggak Boleh Kendor

Minggu, 26 September 2021 09:14 WIB
Mendagri Muhammad Tito Karnavian (Foto: Istimewa)
Mendagri Muhammad Tito Karnavian (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sikap malas dan abai terhadap protokol kesehatan dianggap menjadi penyebab malapetaka lonjakan kasus Corona. Meski saat ini penanganan pandemi Covid-19 mulai membaik, masyarakat diingatkan jangan lengah. 

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengatakan, turunnya angka kasus positif Covid-19 jangan sampai membuat masyarakat larut dalam euforia. Indikator yang menunjukkan perbaikan dalam penanganan Covid-19, seharusnya tidak lantas menjadikan masyarakat berpuas diri. Untuk itu, pelonggaran yang dilakukan juga mesti bertahap, berlanjut dan bertingkat. 

“Justru landai saat seperti ini semua stakeholder, baik provinsi maupun kabupaten dan kota harus mempersiapkan skenario jika ada gelombang varian baru,” ujar Tito saat memimpin rapat dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), di Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, kemarin. 

Berita Terkait : Tenang, Koeman Nggak Bakal Dipecat

Ia melanjutkan, skenario yang dibuat Pemerintah pusat tetap sama. Di antaranya, meningkatkan kapasitas kesehatan seperti ketersediaan obat dan oksigen, serta tempat isolasi terpusat (isoter) bagi penderita Covid-19. 

Untuk masalah pendataan, mantan Kapolri ini mengimbau agar jangan sampai terjadi lagi kesalahan pada proses input terkait angka-angka yang menjadi indikator penanganan. Soalnya, hal itu berkaitan dengan status level yang akan ditetapkan pada daerah tersebut. Permasalahan penanganan Covid-19 pada daerah padat penduduk juga mesti dicermati dengan baik. 

“Data perlu di-cleansing, dilaporkan dengan real, dalam minggu itu,” imbaunya. 

Berita Terkait : Sun Life Launching Dua Produk Proteksi Kesehatan

Peringatan yang sama juga disampaikan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito. Dia meminta masyarakat tetap disiplin mematuhi prokes sekalipun sudah divaksinasi. Ia mengatakan, upaya vaksinasi yang tidak disertai protokol kesehatan berpotensi meningkatkan kasus Covid-19 kembali. 

“Vaksin tidak dapat menjadi satu-satunya tameng kita dalam menghadapi pandemi ini. Vaksinasi, terutama jika hanya dosis pertama dan tidak dibarengi protokol kesehatan, tidak dapat menjamin lonjakan kasus untuk tidak terjadi lagi,” tuturnya. 

Wiku menyebutkan, dalam rangka mempertahankan melandainya kasus Covid-19, Pemerintah saat ini terus berupaya meningkatan cakupan vaksinasi di seluruh pelosok Tanah Air. Vaksin dosis lengkap terbukti dapat mengurangi keparahan gejala risiko perawatan di rumah sakit dan risiko kematian pasien. 

Berita Terkait : Demi Taruhan, Pria Nekat Bugil Di Bar

Hasil penelitian juga menunjukkan, orang yang sudah divaksin memiliki risiko tertular virus lebih rendah. Jumlah virus dalam tubuh orang yang sudah divaksin pun lebih cepat turun. 

Namun demikian, belajar dari pengalaman negara-negara dengan cakupan vaksinasi dosis pertama tertinggi di dunia, lonjakan kasus Covid-19 tetap dapat terjadi. Singapura misalnya, dengan cakupan vaksinasi 79 persen penduduk, tetap mengalami lonjakan kasus virus Corona karena pelonggaran pembatasan dilakukan dengan hanya berfokus pada penguatan 3T (testing, tracing, treatment). Sementara penerapan protokol kesehatan di tempat umum, kendor. [DIR]