Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Amerika Terancam Gagal Bayar Utang
Sri Mul Tenang Tapi Waspada
Kamis, 30 September 2021 07:50 WIB
Sebelumnya
Kembali ke Sri Mul. Dia menyadari dampak dari situasi di AS tersebut. “Ini menjadi faktor yang harus kita waspadai,” kata Sri Mulyani dalam Diskusi Virtual Bertajuk Forum Indonesia Bangkit, kemarin.
Selain ancaman tersebut, Sri Mul juga mewaspadai rencana tapering off alias pengetatan stimulus oleh bank sentral AS (The Fed) yang diprediksi bakal dimulai akhir tahun ini. Serta krisis utang yang dihadapi raksasa properti Tiongkok Evergrande belum lama ini.
“Sambil kita melihat dan menjaga pemulihan ekonomi, kita tidak boleh lengah dengan perubahan global yang begitu sangat dinamis,” ujarnya.
Baca juga : AS Terancam Gagal Bayar Utang, Sri Mul Waspada
Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia ini lalu menegaskan, Indonesia akan mengelola utang dengan hati-hati. Agar, tidak memberatkan APBN. “Kita juga mengendalikan kenaikan utang pada APBN kita agar menjadi sehat. Tahun 2022, fokusnya adalah reform struktural dan fiskal dan komitmen kementerian lembaga dan APBN secara baik dan mendoromg reformasi,” imbuhnya.
Pemerintah bersama DPR telah menyepakati postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk tahun fiskal 2022. Pemerintah masih berharap, sumbangan penerimaan negara tahun depan masih mendapatkan dukungan penuh dari dunia usaha. Dari global, pemerintah berharap tetap mendapatkan berkah dari harga komoditas.
“Ini memberikan dampak positif tapi akan memberikan konsekuensi terhadap postur APBN 2021 dan 2022. Ini yang harus kita waspadai,” jelasnya.
Baca juga : Covid-19 Mulai Terkendali, Lestari Imbau Tingkatkan Kewaspadaan
Apakah situasi di AS sangat mengancam? Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menganggap isu tersebut tidak akan terlalu berpengaruh pada perekonomian Indonesia. Menurut dia, kondisi di AS hanya terkait tawar menawar politik. Sifatnya hanya sementara. Karena situasi seperti ini sudah 78 kali terjadi. “Tinggal tawar menawar kedua partai di sana,” kata David, kemarin.
David lebih mengkhawatirkan kondisi perekonomian China dan kasus Evergrande yang bisa menggoyahkan perekonomian negara tirai bambu tersebut. Apalagi, negara China ini merupakan negara mitra dagang terbesar di Indonesia. Bila perekonomian China melambat dan mengurangi permintaan dari Indonesia, maka ini akan membawa dampak pada ekspor yang implikasinya pada perekonomian Indonesia.
Senada disampaikan Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rachman. Dibandingkan mengkhawatirkan utang AS, dia lebih mengkhawatirkan utang luar negeri RI. Kata dia, untuk mengukur besar utang tidak bisa langsung dilihat besar nominalnya. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya