Dark/Light Mode

Ini Hasil Survei, Bukan Hoaks

Rakyat Butuh Suplemen, Nggak Butuh Amandemen

Kamis, 14 Oktober 2021 08:15 WIB
Direktur Eksekutif IPI Burhanuddin Muhtadi. (Foto: Istimewa)
Direktur Eksekutif IPI Burhanuddin Muhtadi. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Para pejabat dan politisi yang sangat ngebet ingin melakukan amandemen UUD 1945 sudah selayaknya membaca laporan survei yang dirilis Indikator Politik Indonesia (IPI).

Menurut lembaga survei top Tanah Air yang digawangi Burhanuddin Muhtadi PhD ini, mayoritas rakyat saat ini menyatakan nggak butuh amandemen. Rakyat kebanyakan justru lagi butuh “suplemen” karena ekonominya ambruk diterkam Corona.

Amandemen dan kondisi ekonomi ini, jadi dua poin menarik dari hasil survei yang dipaparkan IPI dalam diskusi publik yang digelar Fraksi Nasdem MPR, kemarin. Paparan hasil survei disampaikan langsung Direktur Eksekutif IPI, Burhanuddin Muhtadi.

Baca Juga : PP Raih Tiga Penghargaan

Survei IPI ini dilakukan 2-7 September 2021 dengan jumlah responden 1.200, yang tersebar di 34 provinsi. Metode wawancara dengan random sampling. Tingkat kesalahan atau margin of error plus minus 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Terkait kondisi ekonomi, Burhanuddin dalam paparannya menuturkan, saat ini kondisi ekonomi rumah tangga menurun dibanding tahun lalu. 38,9 persen responden mengaku lebih buruk. 2,5 persen lainnya mengaku, kondisinya lebih parah: jauh lebih buruk.

Jika ditotal, ada sekitar 41,4 persen atau mayoritas responden mengaku, ekonominya sedang tidak baik-baik saja. Kondisi ini dialami masyarakat setelah hampir 2 tahun dihajar pandemi Corona. Kondisi ini jadi pertanda, kalau saat ini rakyat butuh suplemen untuk kembali membangkitkan ekonomi keluarganya.

Baca Juga : Wabah Punah? Amin Ya Allah

Kendati demikian, responden yang merasa ekonominya lebih buruk saat ini trennya mengalami penurunan. Puncaknya terjadi di bulan Mei 2020 yang mencapai 83,7 persen, terus menurun hingga separuhnya di bulan September tahun 2021, yakni 41,4 persen.

“Tergantung kita cara memandangnya,” kata Burhanuddin sambil menyebut cara pandang dengan analogi “gelas setengah kosong” dan “gelas setengah penuh”.

Jika dilihat dari sudut pandang gelas setengah kosong, lanjut Burhanuddin, masih banyak yang mengatakan ekonomi rumah tangga keluarga Indonesia secara umum memburuk, ketimbang yang mengatakan membaik. Tapi, kalau dilihat dari sudut gelas setengah penuh, tren perburukan ekonomi rumah tangga secara overtime mengalami penurunan secara signifikan.
 Selanjutnya