Dark/Light Mode

Corona Bikin Hubungan Keluarga Renggang

Kamis, 17 Desember 2020 05:03 WIB
Ngopi - Corona Bikin Hubungan Keluarga Renggang
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Kejadian September lalu cukup membuat keluarga kami panik. Penyebabnya, abang saya nomor dua dinyatakan positif Covid-19 setelah tes Swab di kantornya. Karena tanpa gejala, maka diminta isolasi di rumah. Abang saya pun menjalaninya.

Masalahnya, abang saya akan menikahkan anaknya sepekan setelah dia diharuskan isolasi. Saat itu, masa isolasi mandiri selama 14 hari. Otomatis, acara yang sudah disiapkan jauh-jauh hari harus dipikirkan ulang.

Abang saya bersikeras harus tetap jalan meskipun dia dinyatakan positif. Yakni, dia nggak ikut acara anaknya. Perbedaan pendapat pun terjadi di keluarga besar kami. Ada yang setuju lanjut, ada yang nggak.

Berita Terkait : Curhatan Sopir Taksi Online

Bagi yang setuju, acara tinggal seminggu, sayang kalau dibatalkan atau ditunda. Karena undangan, catering, tenda, dan lainnya sudah dibayar. Jalan keluarnya, mereka harus rapid test terlebih dahulu.

Bagi yang menolak, alasannya soal tanggung jawab tentang penyebarannya. Meskipun Abang saya tak ikut, keluarga mereka, termasuk sang anak yang akan ijab qobul, dinilai memiliki kontak erat dengan yang positif.

Di sinilah awal keretakan hubungan keluarga. Acara yang sudah di depan mata tak bisa dihindarkan. Saya bersama kakak saya yang tak memiliki kontak dengan abang diminta untuk ke rumah calon besannya. Untuk membicarakan hal ini.

Berita Terkait : Dari Hobi Jadi Peluang Usaha

Kami mencoba terbuka tentang semuanya. Termasuk posisi abang saya yang positif dan kemungkinan ketidakdatangan abang saya. Ternyata, pihak besan tak masalah. Asalkan semua memakai masker, pelindung wajah, sarung tangan, menyediakan hand sanitizer, dan tentu tidak ada jabat tangan. Bagi yang menolak, keputusan ini semakin rumit. Karena penyebaran tetap semakin luas dan ada kekhawatiran diusir warga saat acara.

Singkatnya, acara tetap berlangsung. Abang saya tak mendampingi anaknya menikah. Hanya via zoom. Acara sangat singkat, dimulai pukul 10 pagi dan selesai pukul 12 siang. Keluarga yang menolak memutuskan tak hadir.

Ternyata, ketidakhadiran itu membuat abang saya naik pitam. Hubungan keluarga yang tadinya hangat menjadi dingin.

Berita Terkait : Ngarep Sembako, Eh Malah Dapat Masker...

Berbagai cara sudah saya lakukan untuk kembali menyatukan hubungan satu darah ini. Bahkan, sampai tulisan ini dibaca, saya belum berhasil menyatukan hubungan keluarga saya. Lucu memang, Covid-19 bukan sekadar mematikan nyawa, ekonomi, tapi membuat silaturahmi kakak adik terganggu. [Nana Maulana/Wartawan Rakyat Merdeka]