Dark/Light Mode

Keluhan Penjual Gado-gado

Kamis, 18 Februari 2021 06:30 WIB
Ngopi - Keluhan Penjual Gado-gado
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Ditengah pandemi saat ini, saya rasa makin banyak pihak yang peduli sama kesehatan dan kebersihan. Apalagi, itu juga kunci sukses mengurangi penyebaran virus Covid-19.

Dan, hal yang digencarkan pemerintah ya, jaga 5M. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Namun, semakin banyak yang peduli kesehatan memberikan pengaruh bagi Pak Jo. Dia jadi lebih lama nongkrong di depan supermarket karena jualan gado-gadonya menurun.

Berita Terkait : Nonton The Queen`s Gambit

Sudah belasan tahun Pak Jo berjualan gado-gado di gerobak. Memanfaatkan langganan dan orang yang nggak sengaja lewat atau habis belanja di supermarket.

Pak Jo, baru nyoba lewat aplikasi, jasa pesan antar. Itu juga dimulai beberapa bulan lalu. “Soalnya dulu sebelum pandemi, saya jualan tanpa online. Dan saya bisa pulang sebelum jam satu siang, mbak,” ungkap Pak Jo.

Sekarang? Setelah Ashar pun, gerobak Pak Jo masih eksis. Bahkan sampai si Ibu, istrinya Pak Jo yang gantian nungguin jualan mereka. Porsi jualan pun sudah berkurang 40 persen.

Berita Terkait : Keranjingan Cupang

“Karena pandemi ini, orang makin selektif mbak mau jajan pinggir jalan. Bahkan keluar rumah aja nggak berani kan. Dimaklumi, saya cuma contoh kecil aja masih banyak pedagang gerobak yang mungkin lebih dari saya (sepi jualan),” lanjut Pak Jo.

Kata Pak Jo, pedagang yang punya toko, seperti restoran atau mall mungkin masih bisa bernapas. Anggapan orang lain karena lebih higienis, disepakati Pak Jo. Setidaknya orang makan atau beli tak terlalu khawatir.

“Tapi yang kayak saya ini mbak. Orang mikir belinya ya. Padahal saya nggak pernah lepas masker, sekarang aja udah dua lapis pakainya,” terangnya lagi.

Berita Terkait : Koleksi Tanaman Hias

Pak Jo juga memperlihatkan ember kecil dan sabun cuci tangan yang dia sediakan. Buat pelanggan atau siapa saja yang butuh, katanya.

Meski merasakan dampak, Pak Jo gigih melanjutkan ikhtiarnya. Dia tak mau patah semangat melawan pandemi. Meski biaya hidup hanya untuk dia dan istri, sesekali beliin kado cucu adalah impiannya ketika dagangan laris manis.

“Yang penting kita sehat mbak. Dua orang tua ini (Pak Jo dan istri). Pelanggan saya juga, mbaknya juga. Dan Corona hilang. Aamiin,” harap Pak Jo. Aamiin. [Merry Apriyani/Wartawan Rakyat Merdeka]