Dark/Light Mode

Sibuk Mainin Receh

Sabtu, 3 April 2021 06:32 WIB
Ngopi - Sibuk Mainin Receh
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Sekarang ini, saya makin banyak mendengar cerita dari teman-teman yang tengah merintis usaha. Selain senang, cerita-cerita mereka jadi penyemangat di tengah pandemi.

Si Teman, sebut aja namanya gitu. Dia ini dulunya wartawan, lalu hijrah jadi content writer sampai akhirnya jadi fotografer lepas. Job banyak sana-sini, saat sebelum pandemi.

Nah setahun pandemi, dikatakan dia hidupnya lumayan bergejolak. Kerap menerima tawaran interview untuk seleksi calon pegawai, namun akhirnya, “yah belum berjodoh,” dia ungkap begitu.

Berita Terkait : Lucunya Piala Menpora

Sambil menunggu pekerjaan, dia semog asyik jualan via platform e-commerce. Yang dia jual properti atau perlengkapan foto. Konsennya masih di pemotretan food photography.

Saya awalnya bingung, apa sih properti foto, perlengkapan foto makanan. Duh. Nggak ngerti, keluh saya ke dia. Lalu dia mulai kirim link toko online miliknya, dan akhirnya saya ngerti dia jualan apa.

“Sibuk mainin receh, Mer,” aku dia. Ya gimana nggak receh, menurut pengakuan dan observasi yang saya lihat lewat layar ponsel ya gitu deh. Barang-barang yang dijual di bawah seratus ribu, bahkan ada yang seribuan.

Berita Terkait : Butuh Minyak Tanah

“Hah, serius ini?” tanya saya ke dia. “Iya. Yang kayak gitu justru Alhamdulillah mendongkrak penjualan tiap harinya. Lihat deh kain goni, udah 400 potong lebih yang kejual. Dijual nggak nyampe Rp 10 ribu, tapi tiap hari nggak ada yang nggak beli,” jelas dia panjang lebar.

Dengan bawaan yang terlanjur pengin tahu alias kepo, saya tanya dong berapa omzet yang dia dapat setiap bulan. “Ya kalau sehari minimal Rp 1 jutaan, diitung aja deh sebulan berapa,” kata dia sambil tertawa.

Haduh, ini mah nggak receh, ceplos saya. Dia tertawa lagi. Di balik pembawaannya yang santai dan banyak merendahnya. Saya pikir kawan ini punya analisa yang lumayan tajam. Dia cepat menangkap peluang. Meski usahanya baru berjalan di usia empat bulan.

Berita Terkait : Macet Lagi, Macet Lagi

Dia bisa melihat peluang di balik orang-orang yang keranjingan usaha di bidang kuliner, buka resto di rumah atau toko, dia melihat celah lain yang menghasilkan cuan nggak sedikit. Menyediakan perlengkapan fotografi, pengusaha kuliner ini.

“Sekarang banyak Mer, pelaku usaha makanan yang aware kalau foto jualannya harus bagus. Dia motret pakai ponsel misalnya, tapi harus ada pernak-perniknya biar ala konsep foto studio kan. Nah di situ kita masuk,” jelasnya lagi.

Saya lalu berkomentar, kalau yang dia lakukan bukan sekadar recehan. Ini mah, serius digodoknya. Karena butuh riset, tes pasar dan pemotretan professional buat menarik pelanggan dia. Keren juga ya… [Merry Apriyani/Wartawan Rakyat Merdeka]