Dewan Pers

Dark/Light Mode

Nggak Usah Berlebihan

Kamis, 2 September 2021 06:24 WIB
Ngopi - Nggak Usah Berlebihan
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Segala apapun yang berlebihan memang tak baik. Nah, yang berlebihan ini adakalanya terjadi karena dipaksa atau disengaja. Oleh industrialisasi misalnya. Beberapa waktu lalu, dalam sebuah podcast, presenter yang kini heboh hampir meninggal karena Covid-19, melontarkan pertanyaan menarik soal buah-buahan kepada seorang dokter.

Selama ini, persepsi orang terhadap konsumsi buah, baik-baik saja. Banyak makan buah sama dengan sehat. Kandungan vitaminnya macam-macam. Tetapi ternyata, sang dokter mengingatkan, kelebihan fruktosa, gula dari buah-buahan, juga tak baik. Artinya, konsumsi buah sesuai kebutuhan saja. Atau pas ada saja.

Benar juga. Itulah mengapa Tuhan menciptakan sistem musim. Saat musim rambutan, mangga tak berbuah. Begitu pula siklus untuk buah jenis lainnya. Dan industrilah yang menyebabkan buah apa pun saja ada kapan pun kita mau. Apalagi yang berlabel negara luar, Mandarin, Bangkok, Washington, dan sebagainya.

Berita Terkait : Pengalaman Urus STNK Di Samsat Saat PPKM

Atas nama industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi, tanah-tanah ‘diperkosa’ agar melawan hukum alam, sunnatullah. Diracun sedemikian rupa dengan pupuk dan ragamnya dengan dalih produktivitas.

Selain produk pertanian dan perkebunan, ini terjadi pada produk makanan olahan dan turunannya. Gula, susu, beras, boba, makanan minuman siap saji, dan apapun saja. Industrialisasi, sadar atau tidak sadar, memaksa kita konsumtif, yang berujung pada pola makan dan pola hidup. Sementara para kapital itu, 100 persen hanya memikirkan laba.

Yang amat berbahaya, jika industri dan pasar malam ini masuk ke sektor yang mestinya tak boleh berpatokan pada untung dan rugi. Seperti kesehatan, pendidikan, agama, politik kebangsaan, dan yang bersifat nilai lainnya.

Berita Terkait : Untung Sudah Vaksin

Kalau sudah ada ‘industri’ sekolah atau universitas berlabel favorit, jangan harap anak pemulung yang tinggal di bedeng, atau anak Pak Tani yang hanya punya sawah sepetak, memenuhi bangku di kelas-kelas institusi pendidikan jenis ini. Jangan kaget pula jika ada universitas negeri, biaya masuknya setara ongkos naik haji.

Jangan pula bermimpi melihat driver ojek online yang masuk ke ruang kelas utama Rumah Sakit setelah kecelakaan di jalanan. Jangan terbelalak juga kalau pernah lihat ustad, pemuka agama, pemimpin organisasi massa yang hidupnya mewah bergelimang harta terpaut jauh dari kondisi umatnya. Padahal Nabi yang katanya mereka ikuti, hidup amat sederhana. Dan jangan bermimpi punya pemimpin rakyat yang sejati. Industri partai politik, pasar malam demokrasi saat ini, tak menghendaki itu. Para oligarki dan kapital, butuh sosok yang mendatangkan laba bagi mereka.

Akan tetapi, tak perlu terlampau risau atas semua itu. Selektiflah memilih apa yang harus kita masukkan ke dalam pikiran, mana yang mesti disimpan di hati. Apa yang harus kita pegang dan mana yang harus dibuang, atau sekadar ditulis lewat mural di dinding-dinding kota. Tidak semua hal harus kita pusingkan. Jangan menuntut yang ideal harus berlaku. Kita tak bisa menghindar dari kesalahan-kesalahan sistemik ini. Minimal sekali, jangan jadi pelaku utama dan ojo nemen-nemen tah rek (jangan keterlaluan lah). [Faqih Mubarok/Wartawan Rakyat Merdeka]