Dark/Light Mode

Sedih Orang Tua Positif

Kamis, 15 Juli 2021 06:09 WIB
Ngopi - Sedih Orang Tua Positif
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Hati anak mana yang tidak hancur ketika tahu orang tuanya terkena masalah? Semua pasti merasa hancur. Begitu juga saya saat tahu Bapak dan Ibu saya positif terpapar Covid-19.

Perasaan berkecamuk dalam hati ini tak mungkin dapat saya ingkari karena ini kejadian pertama yang menimpa keluarga besar saya. Apalagi kita pasti tahu, virus ini telah bikin geger semua negara dunia. Yang terpapar sudah banyak, korbannya banyak, dan yang sembuh juga banyak.

Tapi tetap aja, meski banyak orang yang bisa sembuh, saya sebagai seorang anak tetap memiliki ketakutan yang sangat mendalam dari kejadian ini. Terutama kepada ibu yang teramat parno sejak munculnya corona di Indonesia. Jangankan keluar rumah, terima tamu aja ogah.

Dia juga yang mendorong seluruh anggota keluarga taat Prokes dan terima divaksin. Jadi wajar kalau sikapnya langsung berubah drastis paska divonis positif, Rabu (30/6) lalu. Dia sepertinya terpukul akibat kelalaiannya. Bawaannya jadi emosian dan maunya juga banyak yang aneh-aneh.

Berita Terkait : Hiburan Itu Zafi

Kami berempat anak-anaknya bahkan sampai kesusahan ngasih masukan atau nurutin kemauannya. Kalau bapak sih mendingan. Orangnya gampang dibilangin alias nurut. Bawaannya juga santai semenjak divonis positif.

Tapi kalau Ibu, waduh… butuh perjuangan ekstra keras. Kami anak-anaknya bahkan sampai harus sering berdebat panjang sama Ibu di video call grup aplikasi WhatsApp, sebelum mengambil keputusan terkait tindakan apa yang harus diambil. Soal isolasi Corona misalnya. Ibu pengennya isolasi di luar rumah, di Wisma Atlet Kemayoran. Katanya biar dapat perawatan intens dan virus di tubuhnya tidak menular ke orang-orang sekitar rumah.

Mendengar itu kami anak-anaknya sontak kaget, dan sepakat untuk tidak mewujudkannya. Saya sempat bingung “kok bisa-bisanya Ibu berpikiran mau dirawat di sana? Siapa yang menghasut? Pasti ada yang menghasut,” lirih saya dalam hati.

Tapi bodo amatlah. Kami anak-anaknya tetap untuk tidak mengabulkan keinginan Ibu yang satu itu. Kami semua sepakat melarang bukan karena tidak percaya dengan kualitas perawatan di fasilitas kesehatan di sana.

Berita Terkait : Trip Report Vs Loket Report

Tapi semata-mata karena kami tahu betul betapa lemahnya mental Ibu saat berhadapan dengan alat medis. Mentalnya gampang ngedrop dan kami nggak mau itu terjadi karena bisa makin gawat.

Tapi untungnya, setelah melalui perdebatan panjang nan sengit, kami berhasil memenangkan perang emosional dengan Ibu. Ibu akhirnya setuju menjalani isolasi di rumah setelah diiming-iming bakal terus dimonitoring keponakannya bernama Ratih.

Ratih ini berprofesi sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, dan dia setuju untuk memonitoring budenya selama menjalani masa isolasi.

Setelah urusan Ibu saya selesai. Masalah berikut yang harus kami hadapi adalah menenangkan batin saudara kandung kami yang paling bontot. Perempuan. Batinnya kini bergejolak sejak mendapat kabar Bapak dan Ibu positif Corona. Sebab, dia satu-satunya anak di antara kami yang sudah lama tidak ketemu mereka.

Berita Terkait : Covid-19 dan Prabu Kian Santang

Dia sudah lima tahun menetap di Belgia untuk kuliah. Komunikasi mereka hanya terjalin secara virtual. Jadi wajar kalau terjadi pergolakan yang sangat besar dalam hatinya. Kami yang tua hanya bisa berusaha menenangkan.

Adik saya bilang, sebenarnya dia sudah sejak awal pandemi ingin pulang ke Indonesia untuk ketemu Bapak dan Ibu. Tapi hal itu sulit terjadi karena ketatnya aturan lockdown di negara tempatnya tinggal saat itu. Orang tidak bisa keluar masuk sembarangan. Kalaupun bisa, peluang mereka kembali bakal lebih sulit ketimbang keluar. [Danu Arifianto/Wartawan Rakyat Merdeka]