Dewan Pers

Dark/Light Mode

Puan: Kita Bangga Istiqlal Raih Penghargaan Masjid Ramah Lingkungan

Sabtu, 9 April 2022 12:49 WIB
Ketua DPR Puan Maharani/IG
Ketua DPR Puan Maharani/IG

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua DPR Puan Maharani turut bangga atas penghargaan Sertifikat Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE) kepada Masjid Istiqlal

Terlebih, masjid kebanggaan masyarakat Indonesia tersebut menjadi yang pertama di dunia sebagai rumah ibadah dengan bangunan ramah lingkungan atau green building.

"Ini sungguh menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia," kata Puan, Sabtu (9/4).

Puan mengatakan, pada November tahun 2020 dia meninjau langsung renovasi Masjid Istiqlal. Puan sangat terkesan karena mendapati dua azan, maghrib dan isya di sana.

Puan bercerita, waktu itu, setelah salat Maghrib, dia bersama Imam Besar Masjid Istiqlal KH Prof Nasaruddin Umar mengelilingi area Istiqlal. 

Puan pun sangat terkesan dengan hasil renovasi terhadap masjid yang diinisiasi oleh Bung Karno itu.

“Dari segi bangunan serta renovasinya tidak hanya bagus, tetapi memenuhi standar sebagai green building," katanya.

Berita Terkait : Pengurus Masjid Diminta Bikin Satgas Prokes

Seperti diketahui, penghargaan Sertifikat EDGE diberikan International Finance Corporation melalui Country Manager IFC untuk Indonesia dan Timor-Leste, Azam Khan pada Rabu (6/4), dan diterima langsung oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar. 

EDGE merupakan standar bangunan hijau dan sistem sertifikasi untuk membantu profesional dan para pelaku bangunan gedung, dalam mewujudkan bangunan hijau dengan konsep ramah lingkungan. Yang terbukti menurunkan jejak karbon secara signifikan.

Ide Soekarno

Pembangunan awal Masjid Istiqlal tercetus atas ide Presiden Soekarno, yang tak lain adalah kakek Puan. 

Menurut Soekarno, ide awal pembangunan Masjid Istiqlal sebenarnya muncul tahun 1944 dalam pertemuan sejumlah ulama, pimpinan organisasi, dan tokoh-tokoh Islam di kediamannya yang berada di Pegangsaan Timur.

Ulama dan tokoh-tokoh Islam tersebut menginginkan dibangun sebuah masjid agung di Jakarta yang sudah lama diinginkan umat Islam.

"Kawan-kawan yang berkumpul di situ menghendaki supaya pekerjaan ini lekas dimulai," ucap Soekarno, seperti dikutip dari buku Solichin Salam berjudul "Masjid Istiqlal Sebuah Monumen Kemerdekaan".

Berita Terkait : Gubernur Arinal Beri Penghargaan Polda, Dirjen Beacukai & BNN Lampung

Kepada para ulama, Soekarno lantas menanyakan soal biaya yang sudah disiapkan untuk membangun Masjid Istiqlal. Para ulama dan tokoh-tokoh tersebut mengatakan bisa menjamin pendanaan Rp 500.000 dari dari hasil patungan.

Soekarno merasa uang tersebut tidak cukup. Sebab, dia ingin agar Masjid Istiqlal dibangun secara megah dan kokoh.

“Saya berkata hoooh, itu uang lima ratus ribu rupiah, setengah juta, bukan apa-apa, tidak cukup, jauh tidak cukup," kata Soekarno.

Para ulama dan tokoh Islam saat itu sempat berusaha meyakinkan Soekarno bahwa dana yang sudah disiapkan cukup. Sebab, banyak Umat Islam juga siap menyumbang kayu, bahan bangunan, kapur dan genteng.

Mendengar kata "kayu" dan "genteng", Soekarno semakin teguh untuk menunda pembangunan masjid agung.

Presiden pertama Indonesia itu lantas meminta para ulama untuk bersabar. Soekarno menjelaskan keinginannya agar Masjid Istiqlal dibangun dengan tujuan agar bisa bertahan dalam waktu lama.

"Marilah kita membuat masjid Jami' yang bisa tahan seribu tahun, dan janganlah berpikir dalam istilah kayu dan istilah genteng," kata Soekarno.

Berita Terkait : China Desak Investigasi Pembunuhan Massal Di Bucha, Ukraina

"Jikalau kita membuatnya sekadar dengan genteng, sekadar dengan kayu, dalam tempo seratus-dua ratus tahun sudah lapuk, sudah rubuh," paparnya.

Akhirnya, setelah pemerintah mempunyai cukup dana, pembangunan Masjid Istiqlal dimulai. Pemancangan tiang pertama dilakukan pada 24 Agustus 1961.

Saat pemancangan tiang pertama itu Soekarno menyampaikan harapannya bahwa Masjid Istiqlal akan menjadi salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara.

"Sudah nyata jikalau sudah jadi, masjid ini adalah masjid yang terbesar di seluruh Asia Tenggara. Mungkin sekali dia adalah yang terbesar di seluruh dunia, lebih besar daripada masjid di Istanbul atau di Kairo saudara-saudara," tegas Proklamator Kemerdekaan Indonesia ini. [REN]