Dark/Light Mode

Ingatkan Hakikat Persaudaraan Warga Gorontalo

Gobel: Jangan Gampang Marah-marah, Selesaikan Masalah Secara Kekeluargaan

Rabu, 27 April 2022 07:57 WIB
Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel (tengah) di sela acara buka puasa bersama di kediamannya di Gorontalo, Selasa (26/4). (Foto: Istimewa)
Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel (tengah) di sela acara buka puasa bersama di kediamannya di Gorontalo, Selasa (26/4). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua DPR dari daerah pemilihan Gorontalo, Rachmat Gobel mengingatkan tentang hakikat persaudaraan warga di wilayah asalnya.

“Walau kita berbeda partai politik, kita harus bersatu. Karena jika diurut-urut, pasti akan ketemu bahwa kita memiliki pertalian kekerabatan. Bahwa kita benar-benar bersaudara,” kata Gobel di hadapan para ketua dan pimpinan partai politik di Provinsi Gorontalo, di tengah acara buka puasa bersama di kediaman Gobel, Selasa (26/4).

Peserta acara buka puasa bersama itu berasal dari beragam partai. Ada yang dari Nasdem, PDIP, PKS, PKB, Gerindra, Partai Demokrat, PAN, dan PPP.

Di antara mereka, ada yang benar-benar memiliki kesamaan nama marga, ikatan perkawinan, dan sebagainya.

Ikatan persaudaraan ini terjalin karena jumlah penduduk Gorontalo yang relatif sedikit, yaitu kurang dari 1,2 juta jiwa.

Baca juga : Diingetin Zaki Iskandar: Warga Jakarta Jangan Sampai Bawa Virus Selama Mudik Lebaran

Jumlah penduduk terbesar berada di Kabupaten Gorontalo, dengan angka 390 ribu jiwa.

Sementara jumlah penduduk Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Boalemo, dan Kabupaten Pohuwato masing-masing berkisar 150 ribu jiwa.

Hanya Kota Gorontalo, yang memiliki penduduk hampir 200 ribu jiwa.

Dari enam daerah tersebut, hanya Boalemo dan Pohuwato yang secara geografis memiliki letak yang jauh. Empat daerah lainnya, masih saling berdekatan.

Gobel mengingatkan, di masa kerajaan, lima kerajaan membentuk ikatan persaudaraan melalui persekutuan Limo Lo Pohalaa atau Lima Kerajaan.

Baca juga : GPMI: Jangan Bikin Gaduh Lagi, Dengarkan Suara Rakyat!

Kelima kerajaan itu adalah Gorontalo, Limboto, Suwawa, Bolango, dan Atinggola.

Namun di masa kolonialisme, Bolango hijrah karena menolak berada dalam cengkeraman penjajahan. Pindah ke daerah pedalaman di Bolaang Mongondow.

Kedudukan Bolango kemudian digantikan kerajaan Boalemo.

“Karenanya, di masa lalu itu, kerajaan-kerajaan tersebut tak memiliki sejarah peperangan. Kerajaan tak memiliki benteng dan istana khusus. Yang ada, hanya aula besar tempat para pemimpin bermusyawarah, dan tempat warga mengadu ke pemimpinnya,” jelas Gobel.

Dia mengingatkan, ikatan persaudaraan itu kokoh karena kuatnya adat istiadat Gorontalo yang menjadi landasan bermasyarakat.

Baca juga : Air Galon Guna Ulang Aman, Belum Pernah Sebabkan Penyakit

“Setelah masuknya Islam pada abad ke-15, adat itu diikat dalam pepatah hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to Quru’ani. Kini di era modern, setelah kemerdekaan, semua kerajaan membubarkan diri dan menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam ikatan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, dengan tetap memegang teguh adat istiadat. Karena itu kita memiliki dewan adat atau Duango Adati lo Hulontalo,” beber Gobel.

Tak hanya di tingkat provinsi itu, tiap daerah juga memiliki Dewan Adat tersendiri.

“Namun puncaknya, tetap berada di Duango Adati lo Hulontalo,” tandas Gobel.

Karena itu, Gobel menyatakan, perbedaan wadah partai hanya merupakan sarana untuk berlomba-lomba membangun Gorontalo.

“Kita harus fokus pada tujuannya. Bukan pada wadahnya. Tujuan kita adalah memajukan dan memakmurkan rakyat Gorontalo,” katanya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.