Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
25.23%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58.47%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16.30%
Ganjar & Mahfud
Waktu Update 20/02/2024, 00:17 WIB | Data Masuk 100%

Gobel Rayu Pengusaha Jepang Untuk Berinvestasi Credit Carbon Di Indonesia

Senin, 1 Agustus 2022 21:42 WIB
Gobel Rayu Pengusaha Jepang Untuk Berinvestasi Credit Carbon Di Indonesia

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua DPR Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang) Rachmat Gobel mengajak pengusaha Jepang, untuk berinvestasi carbon credit di Indonesia.

“Indonesia berkomitmen untuk melaksanakan Paris Agreement. Demi lingkungan yang sehat, bersih, dan berkelanjutan,” kata Gobel, dalam Forestry Investment Dialogues 2022 yang diselenggarakan Kedutaan Besar RI di Tokyo Jepang, Senin (1/8).

Pembicara lain adalah Ketua Komisi IV DPR Sudin (PDIP) dan Dirjen Pengelolaan Hutan Lestari Agus Justianto.

Acara yang dibuka Duta Besar Indonesia untuk Tokyo, Heri Akhmadi itu diikuti Anggota Komisi VI Subardi (Partai Nasdem), Anggota Komisi IV Charles Meikyansyah (Partai Nasdem), Anggota Komisi XI Kamrussamad (Partai Gerindra), Anggota Komisi VI Abdul Hakim Bafagih (PAN), dan Anggota Komisi IV Alien Mus (Partai Golkar).

 Serta dihadiri para pengusaha dan peneliti dari Jepang.

Gobel, wakil rakyat dari Partai Nasdem dari daerah pemilihan Gorontalo, mengatakan, permasalahan lingkungan hidup dan kelestarian alam tidak bisa diselesaikan oleh satu kementerian, yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Harus melibatkan kementerian lain serta DPR atau swasta, akademisi, peneliti, dan masyarakat itu sendiri. Jadi harus selalu berkoordinasi dan bekerja sama. Sehingga, beban Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjadi lebih ringan,” katanya.

Di luar itu, juga membutuhkan bantuan internasional. Agar lebih mudah dan lebih cepat meraih target.

Sesuai Forest and Other Land Uses (FoLU) Net Sink, Indonesia net-zero emission gas CO2 hingga 29 persen pada 2030.

Baca juga : Dubes Australia Untuk Penanggulangan Terorisme Kunjungi Indonesia

Namun, jika ada bantuan internasional, maka bisa mencapai 41 persen.

Capaian 100 persen ditargetkan terjadi pada 2060. Karena itu, kata Gobel, harus ada insentif untuk investor asing dalam carbon credit tersebut.

“Kita harus dengar suara investor asing, seperti dari Jepang ini,” katanya.

Gobel menyampaikan, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki luas hutan terbesar di dunia, yaitu sekitar 95,6 juta hektare.

Dengan potensi yang dimiliki Indonesia itu, Gobel menilai, Jepang bisa ikut berpartisipasi bagi pengembangan hutan berkelanjutan.

“Indonesia juga telah memiliki Sovereign Wealth Fund yang memudahkan pengusaha dari negara-negara lain, dalam melakukan investasi di Indonesia,” katanya.

Gobel juga menuturkan, kehadiran Undang-Undang Cipta Kerja memberikan kemudahan dalam berinvestasi di bidang kehutanan. Serta adanya perubahan paradigma dalam pengelolaan hutan.

Menurutnya, ada tiga poin kemudahan berinvestasi di sector pehutanan. Pertama, kemudahan perizinan pemanfaatan kawasan hutan. Kedua, perizinan usaha berbasis resiko (risk based approach).

Ketiga, penyusunan dan penilaian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang diintegrasikan ke dalam proses perizinan berusaha.

Baca juga : Bangun Kebersamaan Untuk Ciptakan SDM Unggul

Gobel yang juga Ketua Asosiasi Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang mengingatkan, saat ini dunia sedang dihadapkan pada kenaikan suhu bumi, akibat penggunaan energi fosil dan rusaknya lingkungan.

Hal itu berdampak pada mencairnya es di kutub, naiknya permukaan air laut, dan berubahnya iklim.

“Semua ini harus diselesaikan bersama-sama oleh seluruh penduduk bumi. Kita harus bekerja sama, salah satunya melalui skema berusaha yang ramah lingkungan,” katanya.

Tiap negara, sesuai Paris Agreement, memiliki target masing-masing untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Sesuai Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, pada tahun 2030 tingkat emisi gas rumah kaca ditargetkan -140 juta ton CO2e.

“Semua itu merupakan upaya untuk mencapai netral karbon atau net-zero emission (NZE), yaitu serapan emisi GRK seimbang atau bahkan lebih tinggi daripada tingkat emisi GRK,” katanya.

Untuk mencapai NZE itu, katanya, dilakukan melalui sektor kehutanan, energi, pertanian, industri (industrial process and product uses/IPPU), dan pengelolaan limbah.

Ia mengakui, peran dominan ditanggung sektor kehutanan dan energi. Lainnya memiliki kontribusi yang kecil.

“Dalam kerangka itu, kami mengundang pihak Jepang untuk turut berkontribusi bagi pencapaian NZE di Indonesia tersebut. Melalui carbon credit, ada banyak skema yang bisa dilakukan untuk membangun kerja sama saling menguntungkan " beber Gobel.

Indonesia memiliki lahan yang sangat luas untuk berinvestasi. Sekaligus berkontribusi bagi tercapainya dunia yang hijau, nyaman, bersih, dan berkelanjutan.

Baca juga : Banyak Pelanggaran UU ITE, Peningkatan Literasi Digital Dinilai Mendesak

Menurutnya, ada banyak bidang yang bisa dikerjasamakan,” katanya.

Gobel mencontohkan, salah satu grup BUMN di Indonesia, yang bergerak di sektor perkebunan, memiliki potensi penyerapan karbon mencapai 39,37 juta ton CO2 per tahun.

“Kontribusi terbesar melalui tegakan pohon kelapa sawit, tebu, dan karet. Selain itu, juga melalui program decarbonization dalam hal pengelolaan POME, perubahan pupuk dan pestisida, dan proses pengolahan," jelas Gobel.

"Tiga hal inilah yang menjadi sumber emisi GRK, sehingga tiga hal ini yang harus diperbaiki. Inilah salah satu contoh potensi terbaik yang bisa dikerjasamakan,” katanya

Indonesia sangat berkomitmen dan bersungguh-sungguh untuk mencapai net-zero emission.

"Kita ingin mewariskan hal-hal baik bagi generasi pelanjut kita. Kita ingin berkontribusi bagi masa depan planet kita. Hakikatnya kita tinggal di rumah yang sama. Hanya kebetulan namanya Jepang dan Indonesia," terang Gobel.

"Tapi kita menghirup udara yang sama, darah kita sama berwarna merah, dan kita berada di bawah matahari yang sama. Mari kita selamatkan peradaban manusia yang terlalu indah untuk dihanguskan,” katanya. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.