Dark/Light Mode

Sosialisasi 4 Pilar MPR di Kalangan PSMTI

Bamsoet Ajak Kembangkan Sikap Tepa Selira dan Semangat Gotong Royong

Rabu, 30 November 2022 21:33 WIB
Sosialisasi Empat Pilar MPR untuk anggota Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (30/11). (Foto: Dok. MPR)
Sosialisasi Empat Pilar MPR untuk anggota Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (30/11). (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam kehidupan demokrasi, persatuan tidak seharusnya dimaknai sebagai keseragaman yang bersifat simbolis dan atributif, tetapi pada kesatuan paradigma dan visi kebangsaan. Gagasan ini mengedepankan konsep wawasan kebangsaan, sebagai cara pandang yang bersifat holistik, mampu melihat setiap persoalan dari berbagai sudut pandang, dengan tetap menjadikan persatuan dan kesatuan bangsa sebagai dasar pijakan.

Demikian disampaikan Ketua MPR sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada 250 anggota Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (30/11). Acara ini dihadiri Ketua Umum PSMTI Wilianto Tanta dan Ketua Penyelenggara Henry Husada.

Bamsoet, sapaan akrab Bambang, menerangkan, upaya merawat kemajemukan Indonesia harus dilandasi kesadaran bahwa keberagaman yang kita miliki adalah fitrah kebangsaan yang harus kita jaga bersama. Di sisi lain, kebersamaan sebagai sebuah bangsa juga harus ditopang oleh pondasi yang mengakar kuat, agar tidak mudah goyah oleh berbagai potensi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan. “Dalam konteks ke-Indonesiaan, pondasi tersebut mewujud pada sikap tenggang rasa (tepa selira) dan semangat gotong royong,” ucapnya.

Baca juga : Semua Senang Semua Goyang

Menurut Ketua DPR ke-20 ini, sikap tepa selira adalah upaya menjaga perasaan, menempatkan situasi dan kondisi diri kita pada situasi dan kondisi yang dialami orang lain, sebagai cerminan sikap penghargaan dan penghormatan terhadap orang lain. Sedangkan gotong royong adalah warisan kearifan lokal yang telah membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yang mengedepankan kerjasama, tolong-menolong, bahu-membahu, dengan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) melanjutkan, kedua pondasi tersebut hanya akan benar-benar bermakna, ketika dimanifestasikan dalam tindakan nyata, dan tidak hanya berhenti pada sebatas ide dan gagasan. “Dalam kaitan ini, saya mengapresiasi PSMTI yang telah mengaktualisasikan sikap tepa selira dan gotong royong tersebut dalam berbagai aksi sosial dan bantuan kemanusiaan”, ujarnya.

Di masa pandemi Covid-19 misalnya, PSMTI Peduli hadir memberikan bantuan bagi masyarakat yang terdampak pandemi. Demikian juga ketika terjadi bencana alam seperti gempa bumi Cianjur, PSMTI Peduli juga hadir di tengah-tengah korban bencana alam untuk memberikan bantuan kemanusiaan.

Baca juga : Bamsoet Ajak Pemuda Pancasila Tingkatkan Soliditas Hadapi Ancaman Bangsa

Bamsoet mengungkapkan, seiring perkembangan zaman dan modernitas peradaban, upaya merajut kebersamaan dalam keberagaman masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Khususnya pada aspek ideologis, saat masalah-masalah patogenik yang terkait dengan ideologi negara, pada umumnya berangkat dari dua isu utama. Pertama, kelemahan kita dalam merawat dan mentransformasikan ideologi kebangsaan kita, dari mulanya rumusan-rumusan ideal abstrak, menjadi praktik-praktik kolektif kenegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. Kedua, ketidakmampuan kita mencegah infiltrasi narasi dan gerakan kontra ideologi negara, dalam berbagai aspek dan dimensinya.

“Untuk itu, kita harus mengakui, ada semacam kealpaan dalam konteks tersebut. Kealpaan inilah yang membuat kelompok-kelompok tertentu mudah mengintrusi dunia pendidikan, kelembagaan sosial kemasyarakatan, dan kelembagaan negara, dengan paham, ideologi dan doktrin keagamaan eksklusif yang menebarkan ancaman terhadap negara Pancasila,” ucapnya.

“Oleh karena itu, kita tidak boleh sedikitpun mengendurkan semangat kolektivitas dalam membangun kebersamaan dan merawat persatuan, dengan merangkul segenap komponen bangsa. Jika kita merujuk pada fakta sejarah, kunci sukses perjuangan menuju Indonesia merdeka, adalah adanya gerakan kebangsaan yang masif dan inklusif, melibatkan seluruh elemen bangsa, tidak terkecuali etnis Tionghoa, yang telah berasimilasi dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia”, tambahnya.■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.