Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Klarifikasi Pernyataannya, Mekeng: Saya Tidak Bilang Boleh Korupsi Asal Nilainya Kecil

Kamis, 30 Maret 2023 19:02 WIB
Anggota DPR RI Komisi XI DPR Melchias Markus Mekeng. (Foto: Ist)
Anggota DPR RI Komisi XI DPR Melchias Markus Mekeng. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota DPR RI Komisi XI DPR Melchias Markus Mekeng mengklarifikasi pernyataannya soal "tidak apa-apa memakan uang haram kecil-kecil".

Dia menjelaskan, dirinya tidak mengajak masyarakat untuk melakukan korupsi. Menurut Mekeng, dirinya tidak mentolerir terhadap perbuatan korupsi, baik yang nilainya kecil maupun besar.

"Korupsi ya korupsi. Itu perbuatan melanggar hukum. Mau kecil atau besar, sama saja. Saya sama sekali tidak tolerir terhadap perbuatan korupsi. Apa yang saya katakan bukan lalu mengajak boleh korupsi asal nilainya kecil. Bukan begitu maksudnya,” tegas Mekeng, di Jakarta, Kamis (30/3).

Mekeng menjelaskan, konteks pembicaraannya yang jadi viral itu lebih pada uang haram dalam transaksi di masyarakat, yang tidak diketahui asal usulnya.

Baca juga : KPK: Tidak Mencerdaskan Masyarakat!

Disebutnya, dalam kehidupan sehari-hari, uang haram itu beredar secara bebas dalam masyarakat. Yang menggunakannya bisa penjahat tetapi juga bisa orang baik. Hal itu terjadi karena dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak tahu dari mana sumber uang seseorang.

“Kita nggak pernah tahu uang yang kita terima, itu sumbernya 100 persen halal atau tidak. Katakanlah kita jual motor ke orang lain, terus dibeli. Apakah kita tahu uang dari pembeli itu halal atau haram? Bisa saja dari hasil rampok. Kemudian motor kita dibeli. Kan itu uang haram namanya tapi kita tidak tahu," jelas Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini.

Begitu pun dengan seorang penjual rokok yang tidak pernah tahu sumber uang dari pembelinya. Jika uang pembelinya berasal dari hasil pencurian atau pemerasan maka sudah masuk kategori uang haram. Otomatis, penjual rokok juga menikmati uang hasil rampokan dari pembeli tadi.

"Kalau itu yang hasil rampok, lalu beli rokok, kan itu uang haram juga, si penjual rokok makan uang haram. Itu yang maksud saya, yang kecil-kecil itu kayak gitu," tutur Mekeng.

Baca juga : Anies Dipersilakan Cari "Dwi Tunggal"

Dia menyebut masyarakat tidak bisa mengontrol 100 persen sumber uang yang beredar. Kecuali ada instrumen saat orang sebelum melakukan transaksi, harus menyatakan asal-usul sumber uangnya. Hingga kini, Indonesia belum menerapkan model tersebut.

"Kita nggak pernah tahu sumber uang yang kita terima itu dari mana, kita nggak pernah nanya, ini sumbernya dari mana, kan nggak mungkin. Kecuali ada mekanisme kita harus men-declare sumber uangnya dari mana," tegas mantan Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR ini.

Dia menegaskan apa yang disampaikannya bukan lalu mengajak masyarakat boleh korupsi asal nilainya kecil. Pernyataannya bukan pula dirinya mendukung praktik korupsi.

Apa yang disampaikannya, kata dia, adalah untuk mengingatkan masyarakat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, tanpa sadar kita bisa makan uang haram karena tidak tahu asal-usul sumber dana seseorang.

Baca juga : Prabowo: Saya Akan Jaga Kehormatan Korps Baret Jingga

"Jadi jangan salah persepsi. Bukan berarti saya mendukung praktik korupsi. Meras Rp 100 ribu, sama meras Rp 100 miliar, sama saja, itu haram. Dan itu perbuatan korupsi. Saya tidak tolerir praktik-praktik begitu," tutup mantan Ketua Banggar DPR ini.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.