Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Antraks Mewabah Di Gunung Kidul
Sosialisasi Larangan Konsumsi Hewan Sakit Kudu Gencar
Sabtu, 8 Juli 2023 17:23 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo berpendapat, kasus penyakit menular antraks yang saat ini mewabah di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta adalah bukti bahwa masyarakat belum memahami sepenuhnya ikhwal penyakit ini.
"Saya kira, kejadian di Gunung Kidul ini menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat belum teredukasi dengan baik ikhwal penyakit menular ini. Masyarakat mungkin sudah sering mendengar ada penyakit yang disebut antraks tapi mereka belum memahami betul bagaimana proses penularannya," kata Rahmad Handoyo dalam keterangannya kepada wartawan, di Jakarta, Sabtu (8/7).
Karena itu, lanjut legislator PDI Perjuangan ini, kejadian di Gunung Kidul saat ini harus dijadikan momentum untuk mensosialisasikan kembali bahaya antraks kepada masyarakat.
"Masyarakat harus diedukasi secara masif bagaimana cara mencegah munculnya antraks. Masyarakat harus tahu bagaimana proses penularannya dan bagaimana cara pengobatannya jika sudah terjangkit," katanya.
Baca juga : Definisi Sosialisasi Dan Kampanye Tidak Jelas!
Dikatan Handoyo, masyarakat harus tahu dan memahami bahwa spora antraks, yang menulari penyakit berbahaya ini, bisa hidup berpuluh-puluh tahun di tanah. Spora ini bisa menyebar ke hewan ternak seperti sapi, kambing, domba, atau hewan herbivora lainnya.
"Antraks bisa muncul kapan saja. Apalagi, disebut-sebut spora antraks bisa hidup berpuluh-puluh tahun. Tapi ini tentu saja bisa dihindari, caranya dengan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang dimasak dengan matang," katanya.
Ditambahkan, masyarakat juga harus diajari agar membakar bangkai ternak yang berpenyakit atau dikubur dalam-dalam agar tidak muncul lagi ke permukaan .
"Ingat loh, spora antraks itu bisa hidup berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun. Spora itu bisa menjangkiti hewan dan hewan yang sakit tersebut bisa menjangkiti manusia," pesannya.
Baca juga : Ganjar Sejati Gelar Sosialisasi Pemotongan Hewan Kurban Di Depok
Bercermin dari kasus di Gunung Kidul, Handoyo mengatakan, hal yang sangat penting adalah larangan memakan bangkai hewan yang berpenyakit.
"Harus ada larangan keras, agar warga tidak memakan bangkai hewan berpenyakit. Kita kan tidak tahu apakah hewan sakit itu antraks, rabies atau penyakit kuku. Kalau sudah sakit yang dibakar atau dikubur saja," katanya.
Dikatakan Handoyo, meskipun wabah antraks saat ini merebak di Gunung Kidul, masyarakat tidak harus panik. Melainkan harus waspada dan lebih care terhadap penyakit ini.
"Sekali lagi, masyarakat harus paham apa itu antraks, apa itu rabies dan penyakit menular lainnya. Kalau sudah paham, tentu penyakit berbahaya tersebut bisa dihindari," katanya.
Baca juga : Update Bangunan Rusak Di Gunung Kidul, Bantul Dan Kulon Progo Akibat Gempa M 6,4
Lebih jauh, Handoyo mendorong Pemerintah Pusat untuk berkolaboras dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian dan Ditjen Peternakan untuk mendesain cara mencegah penyakit menular yang diakibatkan dari hewan ke manusia.
Kolaborasi ini juga harus memberikan informasi yang masif ke masyarakat sehingga bisa meminimalisasi kejadian yang tidak diharapkan. Sukses sosialisasi ini ada di Pemerintah Daerah dan dinas.
Seperti diketahui, kasus antraks kembali merebak di Gunungkidul, Yogyakarta. Dikabarkan, penyakit menular tersebut bermula karena warga makan sapi yang sebelumnya sudah dikubur. Sebanyak tiga warga di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta itu dinyatakan meninggal dan 93 pasien dinyatakan positif antraks.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya