Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Nilai Ekspor Naik 100 Persen
Nurdin Halid Optimistis Neraca Perdagangan dengan Australia Bisa Surplus
Senin, 11 Agustus 2025 21:02 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Nilai ekspor Indonesia ke Australia dalam 5 tahun terakhir melonjak tajam hingga 100 persen. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Nurdin Halid optimistis, defisit perdagangan Indonesia dengan Australia selama ini bisa segera berubah menjadi surplus.
Syaratnya, segenap stakeholders harus bekerja keras dan bekerja cerdas dalam berinovasi dan memperkuat kolaborasi.
Hal itu disampaikan Nurdin Halid di sela-sela kunjungan pimpinan Komisi VI DPR RI dan para ketua Kelompok Fraksi VI ke Canberra dan Melbourne, Australia, 8-12 Agustus 2025.
Turut terlibat dalam kunjungan itu beberapa BUMN yang terkait erat dengan kerja sama bisnis dan perdagangan Indonesia-Australia.
Menurut Nurdin, Indonesia harus bisa memanfaatkan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) untuk meningkatkan perdagangan dan investasi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen dan masuk 5 besar ekonomi dunia tahun 2030.
Australia adalah negara maju yang masuk G20 dengan penduduk jumlah penduduk 28 juta orang. Indonesia juga termasuk anggota G20 dengan kekayaan alam dan budaya serta jumlah penduduk 285 juta orang.
Nurdin mengingatkan, pemberlakuan UU Nomor 1 tentang Pengesahan IA-CEPA pada tahun 2020 terbukti mampu menggerek ekspor dan investasi Indonesia.
“Nilai ekspor kita ke Australia naik 2 kali lipat dalam 5 tahun terakhir. Artinya, Australia menjadi mitra dagang sangat strategis di tengah ketidakpastian ekonomi global, terutama akibat perang tarif,” ujar Nurdin Halid dalam keterangan tertulis, Senin (11/8/2025).
Dia menjelaskan, kunjungan kerja Komisi VI DPR ke Australia bertujuan untuk mendalami kondisi eksisting dan potensi serta kebijakan dan strategi pengembangan sektor perdagangan antara Indonesia dengan Australia.
Selain itu, para wakil rakyat itu menggali kondisi bisnis dan dukungan cabang bank BUMN di luar negeri dalam kerja sama ekonomi dan perdagangan Indonesia- Australia.
Baca juga : Perkuat Ekonomi Daerah, Dharma Jaya Optimalisasi Pengembangan Rencana Bisnis
Komisi VI juga mendalami potensi pasar Australia sekaligus mekanisme pelayanan konsumen yang dilaksanakan oleh perusahaan di negeri Kanguru tersebut.
“Yang dapat diaplikasikan oleh BUMN-BUMN kita di sektor jasa keuangan, pangan, pertanian, perkebunan, maupun kesehatan,” papar Nurdin.
Bagi Nurdin, Australia adalah mitra dagang sangat penting dan strategis di tengah gejolak perdagangan global yang penuh ketidakpastian akibat penerapan tarif impor yang tinggi oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Di satu sisi, potensi pengembangan ekspor ke Australia sangat besar. Namun, di sisi lain, nilai perdagangan Indonesia dengan Australia justru mengalami defisit. Karena itu, Komisi VI mendorong Pemerintah untuk serius menggarap potensi pasar Australia.
“Sebagai strategi baru untuk meningkatkan perdagangan luar negeri kita yang akan memacu produktivitas industri dalam negeri, memperbesar peluang investasi, dan membuka lapangan kerja,” ujar Nurdin.
Menurut Atase Perdagangan RI di Canberra, kata Nurdin, nilai ekspor Indonesia ke Australia pada tahun 2024 adalah 5,59 miliar dolar AS atau sekitar Rp 89,44 triliun.
Sedangkan nilai impor Indonesia dari Australia pada tahun yang sama adalah 7,88 miliar dolar AS. Secara keseluruhan, total perdagangan Indonesia-Australia tahun 2024 mencapai 13,474 miliar dolar AS.
Komoditi utama ekspor Indonesia ke Australia antara lain besi, baja, mesin, peralatan listrik, minyak, gas, pupuk, produk kayu dan turunannya, pakaian, pupuk dan produk kimia organik lainnya, dan produk otomotif.
Harus Bisa Surplus
Nurdin Halid optimistis, neraca perdagangan dengan Australia bisa segera surplus jika Pemerintah dan segenap stakeholders bisa mengoptimalkan potensi besar Australia sebagai pasar ekspor Indonesia.
Indonesia harus mengoptimalkan perjanjian IA-CEPA sehingga Negeri Kanguru itu bisa dikembangkan menjadi hub (pusat pengiriman dan distribusi) bagi komoditi ekspor Indonesia ke negara-negara kawasan Pasifik.
Baca juga : INDEF: Pemerintah Harus Segera Negosiasi Perdagangan Dengan AS
“Indonesia-Australia adalah dua mitra utama ekonomi di kawasan Indo-Pasifik. Dengan IA-CEPA, Australia bisa menjadi pusat logistik dan distribusi komoditi Indonesia di kawasan Indo-Pasifik,” tegas Nurdin.
Keyakinan itu muncul setelah dia mendengar pemaparan pihak KBRI dan Atase Perdagangan RI di Australia maupun Indonesia Trade Promotion Center (ITPC).
Nurdin menyebut, ada sejumlah faktor internal dan eksternal yang mendasari optimismenya.
Pertama, Indonesia memiliki beragam komoditi dan sebagian praktis tidak punya pesaing. Data BPS menunjukkan, ekspor non migas Indonesia ke Australia meningkat signifikan hingga 60,58 persen sepanjang 2024. Peningkatan ini turut menurunkan defisit perdagangan Indonesia terhadap Australia.
“Keunggulan komparatif produk Nusantara harus digarap secara masif dan serius. Salah satu strateginya dengan diversifikasi produk ekspor non-migas seperti makanan dan minuman, produk pertanian, perkebunan, kerajinan tangan, tekstil, produk berbasis rotan, serta produk dekorasi rumah,” ujarnya.
Kedua, secara geografis, letak Indonesia sebagai tetangga yang relatif lebih dekat ketimbang negara-negara pesaing dari Asia maupun negara-negara dari kawasan Eropa, Afrika, serta Amerika Selatan dan Utara.
“Faktor kedekatan letak ini juga harus bisa dimanfaatkan karena komoditi kita bisa menjadi lebih efisien dari sisi biaya logistik dan distribusi,” ingat Nurdin.
Ketiga, Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) telah membuka akses pasar yang lebih luas untuk produk Indonesia, mengurangi atau menghilangkan tarif, dan mendorong investasi.
IA-CEPA membuat harga lebih murah, peluang lebih banyak, proses bisnis lebih efisien. Ini juga berarti lebih banyak lapangan kerja dan investasi.
Sejak pemberlakuan Perjanjian IA-CEPA tahun 2019, total perdagangan Indonesia-Australia melonjak 100 persen, dari sekitar Rp 185 triliun pada 2019 menjadi Rp 382 triliun pada tahun 2024.
Baca juga : Sidak Ke Pasar Kramat Jati, Nurdin Halid: Stok Bahan Pangan Cukup, Harga Stabil
“Manfaat perjanjian ini harus dioptimalkan,” ujar Nurdin.
Keempat, kekuatan diaspora Indonesia di Australia yang berjumlah sekitar 135 ribu merupakan populasi WNI terbesar di luar negeri. Jumlah diaspora yang besar itu, kata Nurdin, akan sangat efektif untuk penetrasi pasar Australia.
“Komunitas dan diaspora Indonesia di Australia dapat berperan sebagai konsumen sekaligus agen promosi alami untuk produk-produk Indonesia,” terang Nurdin.
Kelima, potensi sekitar 62 juta pelaku UMKM yang mampu memproduksi beragam komoditi ekspor. Produktivitas UMKM bisa lebih terpacu dengan kehadiran Koperasi Desa-Kelurahan Merah Putih dan BPI Danantara sebagai strategi pemerintahan Prabowo-Gibran untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen yang berujung pada kesejahteraan rakyat.
Puluhan juta UMKM yang tersebar di seluruh Nusantara berpotensi besar menghasilkan beragam komoditi ekspor berbasis sumber daya alam dan kerajinan lokal.
“Apalagi sudah ada Kopdeskel Merah Putih sebagai konsolidator. Produk UMKM kita yang khas pasti kompetitif karena tidak diproduksi negara lain,” tuturnya.
“Selain itu, kehadiran BPI Danantara yang mengkonsolidasikan sekitar 1.000 BUMN dan anak hingga cucu-cicitnya merupakan kekuatan besar,” imbuh Nurdin.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya