Dark/Light Mode

Dasco Minta Tunda Impor 105 Ribu Pick Up dari India

Selasa, 24 Februari 2026 08:42 WIB
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (Foto: Tedy O Kroen)
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (Foto: Tedy O Kroen)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad angkat suara mengenai polemik impor 105 ribu mobil pikap dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara untuk operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Dasco meminta rencana impor tersebut ditunda. 

"Mengenai rencana untuk impor 105 ribu mobil pick up dari India, saya sudah menyampaikan pesan kepada Pemerintah untuk ditunda dulu," kata Dasco, di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Ketua Harian Partai Gerindra ini memandang, impor tersebut perlu dibahas secara mendalam. Karena itu, penundaan merupakan langkah yang bijak.

"Tentunya, Presiden pada saat pulang akan membahas detail-detail mengenai impor tersebut. Dan tentunya juga Presiden akan meminta pendapat dan mengkalkulasi kesiapan dari perusahaan dalam negeri," ujar Dasco.

Sikap Dasco ini mendapat apresiasi dari dunia usaha. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin menyebut, respons Dasco sangat cepat terhadap polemik yang terjadi. Sikap Dasco ini sesuai dengan aspirasi para pelaku industri untuk menyelamatkan industri otomotif nasional.

Baca juga : Teken Perjanjian Dagang dengan AS, Luhut Pastikan Posisi RI Kuat

“Apresiasi yang tinggi dari kami untuk Mas Dasco. Salut buat respons cepatnya,” ucap Saleh, dalam keterangannya, Senin (23/2/2026).

Menurut Saleh, impor tersebut juga berpotensi merugikan KDKMP. Sebab, layanan purnajual seperti service dan suku cadang mobil pikap itu belum selengkap mobil buatan dalam negeri.

“Bisa bayangkan kalau 105.000 mobil yang dipakai Kopdes Merah Putih adalah produk impor, bagaimana dengan layanan purna jualnya? Kebijakan itu bisa membuat mobil impor menjadi bangkai setelah sekian tahun akibat kesulitan suku cadang,” ucapnya.

Saleh Husen melanjutkan, Kadin sudah berkoordinasi dengan para pelaku industri otomotif, termasuk industri komponen, mengenai rencana impor ini. Suara mereka bulat. “Mereka memohon kepada Presiden agar impor mobil dari India yang kini sedang berjalan dihentikan,” ungkap Saleh.

Menurut dia, jika produsen India serius, sebaiknya mereka membangun pabrik di Indonesia sebagaimana dilakukan Toyota, Suzuki, Honda, Daihatsu, Mitsubishi, Hino, Hyundai, DFSK, BYD, dan VinFast. Pemerintah perlu menempatkan semua pelaku usaha pada level playing field yang sama.

Baca juga : Oknum Brimob di Maluku Tewaskan Pelajar, Kapolri: Hukum Berat!

Dunia akademik juga ikut bersuara mengenai rencana impor ini. Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menyatakan, rencana impor ini berpotensi menjadi langkah deindustrialisasi. Dalam jangka pendek memang terlihat praktis, tetapi dalam jangka panjang melemahkan struktur industri nasional.

“Kebijakan ini menimbulkan masalah makroekonomi, karena impor masif ini menekan neraca perdagangan dan sekaligus akan membuat neraca pembayaran tertekan terus negatif,” ucapnya, dalam keterangan resmi, Senin (23/2/2026).

Dia menjelaskan, Indonesia sudah mengekspor otomotif ke mancanegara dalam jumlah besar, lebih setengah juta unit (518 ribu unit). Kebijakan ini melemahkan strategi ekspor otomotif Indonesia. Negara yang tengah berupaya memperkuat posisi sebagai basis produksi otomotif regional justru berisiko berubah menjadi pasar bagi produsen luar negeri.

Dia melanjutkan, selama dua dekade terakhir, industri otomotif Indonesia telah berkembang menjadi basis produksi regional dan eksportir global. “Masuknya impor dalam jumlah besar berpotensi menurunkan utilisasi pabrik, menekan volume produksi, serta melemahkan daya saing industri yang telah dibangun dengan investasi besar,” terangnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota mengungkap rencana impor 105 ribu unit pick up 4x4 dari India dengan nilai anggaran Rp 24,66 triliun. Kendaraan pick up ini nantinya untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Baca juga : Trump Naikkan Tarif Global 15%, Prabowo Siap Hadapi Semua Kemungkinan

Dia beralasan, impor pikap dari India karena harganya lebih murah. Selain itu, industri otomotif dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan 70 ribu pick up 4x4.

"Produk dari mana pun yang menyuplai pasar Indonesia, harga untuk tipe 4x4 sangat mahal. Kenapa kita perlu 4x4 karena kita butuh untuk digunakan di daerah yang kondisi lahannya sangat menantang," terang Joao Angelo.

Selain masalah harga, industri otomotif nasional dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan 70 ribu pick up 4x4. "Selain stok tidak, ada harga mahal, dan nanti kita bisa memutus distribusi yang lain," sesal Joao Angelo.

Saat ini, sebanyak 200 unit pick up dari India itu telah tiba di Indonesia. Hingga akhir bulan ini, ditargetkan jumlahnya mencapai 1.000 unit. "Tahun ini kami upayakan seluruhnya terealisasi," katanya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.