Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Waspadai Tekanan Di Sektor Pertanian Imbas Konflik Militer Di Timteng
Jumat, 13 Maret 2026 12:28 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Waspadai Sektor Pertanian Imbas Konflik Militer Di Timteng Anggota Komisi VI DPR RI Zulfikar Hamonangan mengingatkan Pemerintah waspada atas dampak konflik geopolitik global terhadap sektor pertanian nasional.
Eskalasi konflik militer berpotensi mengganggu rantai pasok energi serta bahan baku industri pupuk dunia.
"Ketika konflik geopolitik memanas, harga energi dan bahan baku pupuk biasanya ikut naik. Dampaknya akan langsung dirasakan petani karena biaya produksi meningkat," kata Zulfikar dalam keterangannya, Kamis (12/3/2026).
Dia menilai, kenaikan harga pupuk berisiko membuat petani menunda atau mengurangi masa tanam. Kondisi tersebut dapat menurunkan produksi dan memicu kenaikan harga pangan.
Baca juga : 2 Kapal Pertamina Berhasil Lolos Dari Zona Konflik Timteng
Tekanan terhadap sektor pertanian, sebutnya, juga dapat diperparah oleh potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat ketidakstabilan geopolitik global.
"Jika harga energi naik, biaya produksi dan distribusi juga ikut meningkat. Sementara kemampuan subsidi pemerintah terbatas untuk menahan kenaikan tersebut," kata legislator dari Partai Demokrat itu.
Zulfikar juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku pupuk yang membuat sektor pertanian rentan terhadap gejolak pasar global.
"Selama kita masih bergantung pada impor bahan baku, setiap krisis global akan langsung berdampak pada sektor pertanian kita," kata dia.
Baca juga : Pakar Imbau Indonesia Waspada Beragam Dampak Perang Timteng
Dia menyinggung persoalan distribusi pupuk bersubsidi yang dinilai masih rentan terhadap praktik mafia pupuk di lapangan. Menurutnya, sekitar 2.000 kios pupuk pernah ditutup akibat dugaan penyimpangan distribusi.
"Ini menunjukkan tata kelola distribusi pupuk masih perlu dibenahi," ujarnya.
Karena itu, Zulfikar mendorong Pemerintah memperkuat pengawasan distribusi pupuk sekaligus meningkatkan produksi bahan baku pupuk dalam negeri.
"Komisi VI DPR RI akan terus mengawal kebijakan industri pupuk nasional agar petani tidak menjadi pihak yang paling dirugikan setiap kali terjadi gejolak global," kata Zulfikar.
Baca juga : Arema FC Waspadai Serangan Balik Bali United di Kanjuruhan
Sebaliknya, Sementara Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menilai, sejumlah negara justru berminat membeli pupuk urea Indonesia. Bahkan negara-negara yang minat itu mau membayar dengan harga berapapun demi mengamankan urea Indonesia.
Kondisi ini, kara Wamentan, menjadi peluang besar bagi Indonesia di tengah situasi global yang kian tak menentu.
"Gara-gara perang ini itu, banyak negara menginginkan urea dari tempat kita. Nah kita diminta ekspor banyak urea ke banyak negara minta, at any cost, at any price, sehingga ini jadi opportunity," kata Sudaryono di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya