Dark/Light Mode

Komisi VI DPR: Tantangan Garuda Hadapi Badai Covid-19 Sangat Berat

Senin, 27 April 2020 14:51 WIB
Deddy Yevri Sitorus (Foto: Istimewa)
Deddy Yevri Sitorus (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi VI DPR, Deddy Yevri Sitorus, menyoroti kinerja PT Garuda Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Menurut Deddy, tantangan yang dihadapi Garuda Indonesia sangat besar di tengah badai Covid-19 yang melanda Indonesia dan dunia.

Deddy menjelaskan, tantangan berat itu diawali dengan terhentinya layanan penumpang ke 8 daerah Hub Garuda setelah berlakunya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Selain itu, layanan Garuda pada jemaah umroh dan haji juga berhenti. “Revenue perusahaan Garuda Indonesia dari layanan penumpang diperkirakan terpangkas 55 persen sampai akhir tahun 2020,” kata Deddy, melalui pernyataan tertulis, Senin (27/4).

Baca juga : Ara Sirait Ungkap Tiga Jurus Survive Hadapi Covid-19

Wakil rakyat dari daerah pemilihan Kalimantan Utara itu mengungkapkan, berdasarkan data yang disampaikan kepada Komisi VI DPR, pengeluaran tinggi Garuda Indonesia di antaranya adalah biaya operasional, biaya sewa pesawat, biaya overhead yang tinggi, serta biaya finansial yang tinggi. “Biaya sewa pesawat itu tinggi jika tidak ada pengurangan jumlah dan nilai kontrak pesawat di masa pandemi Covid-19,” ungkap dia.

Deddy melanjutkan, turunnya ekonomi makro dan ekonomi mikro akan semakin memperburuk kondisi Garuda Indonesia meski Covid-19 sudah berlalu. Alasannya adalah, beban utang yang jatuh tempo pada 2020, di antaranya adalah Sukuk sebesar 500 juta dolar AS yang jatuh tempo pada Juni 2020.

Baca juga : Sabam Bangga dengan Gotong Royong Para Pemimpin Lawan Covid-19

Ia memperkirakan, Garuda Indonesia membutuhkan dana setidaknya 600 juta dolar AS untuk menopang kelangsungan hidupnya sampai akhir 2020. Angka perhitungan tersebut di luar kebutuhan pembayaran Sukuk pada tahun ini sebesar 500 juta dolar AS.

“Total dibutuhkan 1,1 miliar dolar AS. Major airlines di dunia telah mendapatkan suntikan dana dari pemerintahnya untuk penyelamatan hidup airlines tersebut. Apakah Garuda siap untuk ini?” ujar Deddy.

Baca juga : Bamsoet Kirim Bantuan ADP dan Rapid Test Covid-19 ke Bupati Purbalingga

Pandemi Covid-19 mengguncang industri penerbangan di seluruh dunia. Dalam catatan Deddy, ada 117 airlines dunia yang men-grounded 90 persen fleet-nya, dan 167 airlines lainnya men-grounded 40 persen fleet yang mengakibatkan jumlah traveler merosot 87 persen. Diperkirakan volume penerbangan akan kembali normal 3-5 tahun setelah Covid-19 dan harga akan kembali kuat satu tahun setelah Covid-19.

“Segmen business akan lebih cepat pulih dibanding segmen leisure. Akan ada perubahan demand layanan versus cost pasca Covid-19, saat airlines harus sanggup bertransformasi diri. Apakah Garuda siap untuk ini?” ungkap Deddy. [USU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.