Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Program Kartu Pra Kerja dengan anggaran Rp 5.6 Trillin resmi dirilis pemerintah pada 20 Maret 2020 yang lalu sebagai bagian dari jaring pengaman sosial menghadapi Pandemi Covid-19.
Wakil Ketua MPR dari Fraksi Demokrat, Syarief Hasan mengingatkan, pandemi kali ini bukan hanya mengganggu kesehatan masyarakat tetapi juga mengganggu perekonomian masyarakat.
"Banyak pekerja yang di PHK. Banyak buruh harian yang kehilangan pekerjaannya. Sehingga permasalahan ekonomi membutuhkan solusi berupa bantalan pengaman sosial seperti Kartu Pra kerja," ungkap Syarief Hasan dalam keterangannya Rabu (13/5).
Baca juga : Tingkatkan Bisnis Property, BTN Adakan Pelatihan Online 1.673 Santri
Sayangnya, program ini menjadi bermasalah. Karena ada pelatihan online sebagai bagian dari Kartu Pra Kerja.
Ditegaskan Syarief, pelatihan online ini tidak efektif dan efisien, tidak transparan, dan tidak akuntabel. Bahkan sangat berpotensi terjadinya perampokan uang negara.
"Fokus utama masyarakat hari ini adalah bagaimana memenuhi kebutuhan ekonomi. Dengan adanya himbauan Work From Home dan bahkan PSBB di beberapa wilayah di Indonesia, menjadikan mereka kesulitan memenuhi kebutuhannya," tandasnya.
Baca juga : Kalbar Gerak Cepat Lakukan Gerakan Antisipasi Kemarau
Sehingga, lanjut Syatief, hal yang mestinya dilakukan pemerintah adalah memastikan kebutuhan ekonomi terpenuhi. Yakni lewat Kartu Prakerja. Namun program ini jangan menyulitkan masyarakat dengan tambahan kewajiban pelatihan online. Apalagi pelatihan online yang dilakukan pemerintah lewat Kartu Prakerja tersebut berbayar.
Padahal, Syarief menilai, muatan materi-materinya yang disampaikan dalam pelatihan online dapat diakses secara gratis di internet, baik via youtube maupun platform online lainnya.
"Sekali lagi secara Gratis alias cuma-cuma. Sehingga sangat jelas bahwa pelatihan online ini tidak efektif dan efisien, baik dari segi waktu maupun substansi materi, ditambah pemborosan dari sisi anggaran," ungkapnya.
Baca juga : Segera Terbitkan Aturan Pelaksanaan Perppu Corona
Sebagai bagian dari fungsi pengawasan, Wakil Ketua MPR ini memberikan dukungan penuh kepada Fraksi-Fraksi di DPR yang juga menyuarakan kepada pemerintah agar program pelatihan online sepenuhnya dialihkan menjadi bantuan sosial, terutama bagi pekerja yang di-PHK dan masyarakat kurang mampu lainnya.
"Agar kekhawatiran masyarakat bahwa rakyat tidak mati karena Corona tapi mati karena kelaparan, tidak menjadi kenyataan," pungkas Syarief. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya