Dewan Pers

Dark/Light Mode

Peringatan PDIP

Pengusaha Yang Nimbun Pangan Bisa Dipenjara

Jumat, 10 Mei 2019 22:44 WIB
Anggota Komisi IV DPR Rahmad Handoyo (Foto: Istimewa)
Anggota Komisi IV DPR Rahmad Handoyo (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IV DPR Rahmad Handoyo mengingatkan para pelaku usaha tidak coba-coba menimbun stok pangan atau melakukan kartel di Ramadan ini dan Idulfitri nanti. Sebab, yang melakukan penimbunan bisa dipidana.

“Maka, berhati-hatilah bagi pelaku usaha pangan kita. Jangan sekali-kali melakukan penimbunan di saat-saat seperti ini, karena itu pidana,” tegas politisi PDIP ini. 

Dia mengakui, fluktuasi harga pangan di setiap hari-hari besar keagamaan nasional memang merupakan masalah tahunan yang wajar. Sebab, biasanya kebutuhan dan konsumsi masyarakat terhadap pangan meningkat. Namun begitu, bukan berarti pada pedagang bisa seenaknya menimbun barang dan menaikkan harga. Karena hal itu sangat merugikan masyarakat.

Berita Terkait : Irwandi Ungkapkan Dalang Pelanggaran HAM Aceh

Saat ini, tambah Rahmad, sudah ada Satgas Pangan. Satgas ini akan menindak tegas setiap pelaku usaha yang melakukan kartel dan penimbunan pangan. Selama ini, sudah banyak pelaku kartel yang masuk penjara akibat melakukan penimbunan.

Untuk Satgas, dia berpesan agar lebih aktif lagi. Satgas harus terus keliling ke pasar-pasar untuk mengecek harga pangan. Jika ada tanda-tanda penimbunan, Satgas harus segera ditindak. Hal ini penting untuk menimbulkan efek jera bagi para pengusaha lain.

Untuk Pemerintah, Ramhad meminta lebih giat menggelar operasi pasar. “Pemerintah juga bisa memutuskan impor jika memang diperlukan, tetapi waktunya harus tepat dan harus melindungi para petani,” ucapnya.

Berita Terkait : Kementan Dorong Petugas PUP Kawal Kejayaan Perkebunan Nasional

Di tempat terpisah, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendardi memastikan, pihaknya akan terus menggelar operasi pasar jika harga tiba-tiba bergejolak. Termasuk masalah telur. Kementan melakukan operasi pasar untuk memberikan rasa nyaman bagi umat Muslim agar lebih tenang dalam menjalankan ibadah Puasa.

“Operasi pasar dilakukan pada pasar-pasar tradisional yang harga telur mencapai Rp 26 ribu per kilogram. Harga ini memang membebani konsumen sehingga Pemerintah harus melakukan intervensi. Agar harga telur ayam stabil,” kata Agung.

Kementan telah menjalin kerja sama dengan PD Pasar Jaya untuk melakukan stabilisasi harga di pasar-pasar Jakarta. Hanya saja untuk operasi pasar kali ini hanya dilakukan di tujuh titik. Tujuh titik ini diambil dari hasil survei yang dilakukan BKP Kementan pada tiga hari menjelang Ramadan.

Berita Terkait : Desmond Merasa Lucu dengan Gaya Para LSM

“Sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, harga ini harus normal. Sebab, harga ditingkat peternak masih stabil Rp 22 ribu per kilogram,” kata Agung.

Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi memastikan, pihaknya juga terus berupaya menstabilkan harga bawang putih melalui operasi pasar. Selain di Jakarta, pihaknya juga rutin menggelar operasi pasar di berbagai wilayah nusantara. Salah satunya di Lampung. Kemarin, Kementan gelontorkan 29 ton bawang putih di Lampung. Operasi pasar ini dilakukan di tiga titik, yakni Pasar Panjang, Pasar Tugu, dan di Toko Tani Indonesia (TTI) Lampung.

“Operasi pasar di Lampung bukan dimulai hari ini saja. Namun sudah berjalan sejak dua hari yang lalu sebanyak 3 kontainer atau setara 90 ton dan kemarin sebanyak 7 truk atau setara 50 ton,” katanya. [KAL]