Dewan Pers

Dark/Light Mode

Prabowo-Imin Ngacak-ngacak Peta Koalisi

Senin, 20 Juni 2022 07:44 WIB
Ketum Gerindra Prabowo Subianto (kanan) saat bertemu Ketum PKB Muhaimin Iskandar, di Kertanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu malam (18/6). (Foto: Dok. PKB)
Ketum Gerindra Prabowo Subianto (kanan) saat bertemu Ketum PKB Muhaimin Iskandar, di Kertanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu malam (18/6). (Foto: Dok. PKB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pertemuan Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dengan Ketum PKB, Muhaimin Iskandar sukses mengacak-ngacak peta koalisi yang dibangun sejumlah parpol. Koalisi Semut Merah yang sebelumnya digagas PKB, PKS dan Demokrat terancam bubar dengan gabungnya Imin bersama Prabowo. Duet Prabowo-Puan Maharani juga terancam gagal "naik pelaminan" jika Prabowo-Imin nanti berduet.

Selama ini, Prabowo dan Gerindra cukup adem ayem menyikapi manuver politik sejumlah parpol yang sudah kasak-kusuk urusan koalisi. Misalnya, saat Golkar, PKB dan PAN sepakat membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), Prabowo anteng-anteng aja. Begitupun saat NasDem menggelar rakernas dan memutuskan mengusung Anies Baswedan, Andika Perkasa dan Ganjar Pranowo, Prabowo juga tidak bereaksi.

Termasuk, saat tiga partai, yakni PKB, PKS dan Demokrat berusaha akan membentuk koalisi semut merah, Prabowo belum juga merespons. Namun, peta politik tiba-tiba berubah usai Prabowo dan Imin bertemu.

Pertemuan tersebut terjadi di kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (18/6) malam. Imin datang ditemani beberapa elit PKB. Prabowo selaku tuan rumah juga mengajak serta beberapa petinggi Gerindra. Ada Sekjen Ahmad Muzani dan Ketua Harian Sufmi Dasco Ahmad.

Berita Terkait : Top, Laba Pertamina Naik Dua Kali Lipat

Meskipun cenderung mendadak, kedua ketum partai itu mengaku dalam pertemuan itu sudah cukup membuahkan hasil positif. Gerindra dan PKB mewacanakan membentuk Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya alis KIR.

Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid mengatakan, KIR bakal mengusung duet Prabowo-Imin. “Kami bersyukur seraya memohon rida dan pertolongan Allah, PKB-Gerindra sepakat dan terbentuk Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya, dengan pasangan Mas Bowo-Gus Muhaimin,” kata Jazil, kemarin.

Bahkan, keduanya sepakat untuk mendeklarasikan koalisi tersebut. Kapan deklarasinya, Wakil Ketua MPR itu mengaku masih mencari hari baik. “Insya Allah kami langsung tancap gas bergerak ke masyarakat,” lanjutnya.

Bagaimana dengan nasib koalisi semut merah? Jazilul mengaku, pihaknya tetap membuka peluang bagi partai lain termasuk PKS dan Demokrat untuk bergabung. Namun, formatnya tetap dengan mengusung duet Prabowo-Imin.

Berita Terkait : Ini Tips Pertamina Lubricants Waspadai Pelumas Palsu

Tak hanya nasib koalisi semut merah yang terancam bubar sebelum deklarasi. Wacana Gerindra bakal berkoalisi dengan PDIP dengan mengusung Prabowo-Puan Maharani juga bakal ikutan pupus. PDIP sebagai pemenang pemilu, tentunya tidak mungkin bergabung dalam poros koalisi yang dibangun Gerindra dan PKB.

 

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin tidak menampik kemunculan duet Prabowo-Imin telah mengacak-acak format koalisi. Koalisi ini bisa mengunci koalisi untuk parpol lain. "Koalisi Prabowo-Imin bisa mengecoh dan acak-acak koalisi yang sedang dibangun partai-partai lain," kata Ujang, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Sekalipun belum pasti, tapi Gerindra dan PKB telah bersepakat untuk bersama menghadapi Pilpres, Pileg, dan Pilkada 2024. "Jika mereka serius berkoalisi, maka akan ada kesepakatan di antara keduanya, dan tentu akan ada figur capres dan cawapres yang diusung oleh keduanya, seperti paket Prabowo-Imin," kata  Ujang.

Duet Prabowo-Imin, kata dia, juga membuka peluang Pilpres akan diikuti oleh 4 paslon. Paslon pertama dari koalisi Gerindra-PKB, paslon PDIP, KIB dan paslon yang akan diusung oleh NasDem-PKS-Demokrat. “Namun jika keduanya main-main, maka peta koalisi akan tetap bermuara pada 3 poros yang ada,” tegasnya.

Berita Terkait : Prabowo Bukan King Maker, Tetapi Calon Presiden 2024

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro menilai, koalisi Gerindra-PKB cukup rasional untuk Pilpres 2024. Meskipun hanya diikuti 2 parpol, Gerindra-PKB sudah cukup mengantongi tiket nyapres berdasarkan perolehan kursi DPR yang dimiliki keduanya. Gerindra 13,57 persen kursi dan PKB 10,09 persen kursi DPR yang dijumlahkan sudah lebih dari persyaratan 20 persen kursi legislatif.

"Dalam konteks inilah komunikasi dan manuver politik jajaran pengurus PKB dan Gerindra menjadi relevan," kata pria yang akrab disapa Abas itu, dalam keterangan tertulisnya.

Menurutnya, bila PKB ngotot membentuk koalisi bersama PKS dan Demokrat, cukup rumit dan tidak ramping. Sementara kalau hanya 2 parpol, maka Gerindra dan PKB lebih mudah melakukan kompromi politik.

"Secara ideologi partai, Gerindra-PKB juga akan saling melengkapi. Gerindra nasionalis, PKB sebagai partai Islam terbesar. Tentunya kombinasi ini cukup menjanjikan,” pungkasnya.■