Dewan Pers

Dark/Light Mode

Soal Geger Amplop, Ketum Suharso Justru Ingin Memuliakan Kiai

Kamis, 18 Agustus 2022 15:23 WIB
Ketua DPP Bidang Pemenangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Yunus Razak. (Foto: Istimewa)
Ketua DPP Bidang Pemenangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Yunus Razak. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua DPP Bidang Pemenangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Yunuf Razak menilai tidak ada yang salah dengan geger pernyataan Ketua Umum (Ketum) PPP, Suharso Monoarfa soal ‘amplop kiai’. Justru Sang Ketum dinilai ingin memuliakan para kiai.

Mantan Wakil Ketua Umum (Waketum) GP Ansor ini memulai pernyataannya dengan lokasi tempat di mana Suharso berbicara ihwal itu. Yaitu, saat pertemuan pengurus PPP dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang pembekalan anti korupsi untuk partai politik.

"Pak Ketum justru menyampaikan fakta, bahwa kalau kita atau setiap orang bertemu dengan kiai, sebagaimana kultur Nahdliyin, yaitu ngalap (mengharapkan) berkah," ujar Yunus, kepada RM.id, Kamis (18/8).

Apakah perlu Ketum PPP meminta maaf atas geger amplop kiai? Ditanya begitu, Yunus menyimpulkann tidak perlu. Pasalnya, itu adalah realitas yang terjadi di masyarakat. Terlebih, konteks pembicaraan itu bersama dengan punggawa antikorupsi.

Jadi, katanya, pernyataan Soeharso tersebut di acara KPK yang digelar pada 15 Agustus 2022 di Gedung KPK. Kala itu, pengurus PPP juga bertemu dengan perwakilan KPK yang juga berasal dari unsur Kiai. Yaitu, KH. Nurul Gufron.

Berita Terkait : Memuliakan Tamu

Bahkan, semangat Soeharso dalam pertemuan itu selaras dengan tagline KPK yaitu ‘Berani, Jujur, Hebat’. Pernyataan Ketum PPP itu seolah menggambarkan bahwa peristiwa ‘amplop kiai’ itu bukanlah korupsi, melainkan mengharapkan berkahnya.

"Ini sudah menjadi kebiasaan, tradisi," katanya.

Intinya, kata Yunus, Ketum PPP sekaligus memberikan wejangan kepada seluruh kader Ka’bah bahwa, perjuangan politik itu tidak semata disokong dengan uang. Hal itu, telah dilalui PPP, di kepengurusan Tahun 1979.

Kala itu, PPP menjadi partai yang di bawah tekanan intimidasi penguasa. Namun, bisa bertahan dan eksis bukan karena uang. Tetapi, karena pertolongan Allah SWT. PPP, sarannya, harus memperjuangkan partainya dengan mengandalkan kebesaran Allah bukan yang lain.

Pun, PPP juga memiliki tugas membangun peradaban dalam kesejahteraan ummat.

Berita Terkait : Raker Bersama, Kemenperin-ESDM Bahas Isu Energi Dan Manufaktur 

"Tugas kita sebagai partai adalah bagaiamana menguatkan agama dan membesarkannya. Dan itu, hanya bisa terwujud dengan melibatkan kiai-kiai," pungkasnya.

Sebelumnya, Ketum PPP Suharso, dianggap telah menghina kiai-kiai terkait dengan cerita tentang kebiasaan pemberian amplop dalam kunjungan ke pesantren-pesantren.

Salah satu yang mengkritisi ini adalah Aktivis dan Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) Dr. Sholeh Basyari M. Phil.

"Saya sangat mengecam cerita Suharso tersebut. Apa maksudnya itu? Di depan para Komisioner KPK dan pada acara pembekalan antikorupsi. Sama saja dia menyebutkan itu adalah prilaku korupsi oleh Kiai-kiai. Mana adabnya kepada Kiai? Ketum partai islam, tidak hormat pada Kiai," kata Sholeh.

Untuk diketahui, Soeharso bercerita tentang amplop ini saat berpidato di acara 'Pembekalan Antikorupsi Politik Cerdas Berintegritas (PCB) untuk PPP)' di Gedung ACLC KPK, Jakarta, pada 15 Agustus lalu.

Berita Terkait : Pentolan Partai Kabah Tegaskan Rombongan Liar

Suharso menceritakan pengalaman amplop ini bermula ketika dia menjabat Plt Ketum PPP.

"Saya akan mulai dari satu cerita. Ketika saya kemudian menjadi plt ketua umum, saya mesti bertandang pada beberapa kiai besar, pada pondok pesantren besar. Ini demi Allah dan Rasul-Nya terjadi. Saya datang ke kiai itu dengan beberapa kawan lalu saya pergi begitu saja," kata Suharso.

"Ya saya minta, apa, didoain, kemudian saya jalan. Tak lama kemudian, saya dikirimi pesan, di-WhatsApp, 'Pak Plt, tadi ninggali apa nggak untuk kiai?'" ujarnya.

Suharso kemudian menanyakan balik maksud 'ninggali' usai bertemu kiai. Dia menduga ada barangnya yang tertinggal di lokasi tersebut. Orang dalam cerita Suharso disebut merespons dengan mengatakan 'Oh nanti aja, Pak'.

"Maka sampailah dalam, setelah keliling itu ketemu, lalu dibilang pada saya, 'Gini Pak Plt, kalau datang ke beliau-beliau itu, mesti ada tanda mata yang ditinggalkan'. Wah saya nggak bawa. Tanda matanya apa? Sarung, peci, Qur'an atau apa? 'Kayak nggak ngerti aja Pak Harso ini'. Gitu. Then I have to provide that one. Everywhere," kata Suharso. â–