Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Pengamat politik dari Universitas Indonesia Cecep Hidayat mengatakan, langkah Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) meluncurkan program kerja Program Akselerasi Transformasi Ekonomi Nasional (PATEN) lebih dulu, daripada mengumumkan Capres-Cawapres, dianggap sebagai bentuk politik modern.
“Kita berhadapan dengan pemilih yang rasional dan irasional. Nah, yang rasional akan tertarik pada program. Ini juga menunjukkan partai di Indonesia bergerak ke arah modern, yang memiliki program,” kata Cecep, Kamis (10/11).
Dengan mengusung program PATEN, KIB memiliki peluang besar untuk dilirik oleh pemilih yang menginginkan kerja nyata.
“Selanjutnya, ketika nanti Capres-Cawapres yang diusung menang, tinggal bikin komitmen, dan harus menjalankan program yang sudah dirancang tersebut. Apalagi jika Capres-Cawapres berasal dari internal KIB," kata Cecep.
Baca juga : Kasus Gagal Ginjal Akut Turun, Langkah Cepat Menkes Diapresiasi
Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto berulang kali menyebutkan kesiapan KIB melanjutkan kerja pemerintahan Presiden Jokowi.
"Apa yang menjadi gagasan dan arah pembangunan bapak presiden sudah dipahami oleh KIB," kata Airlangga.
Cecep menambahkan, masyarakat harus bisa melihat program kerja Jokowi yang bermanfaat dan pantas untuk dilanjutkan.
Salah satu prestasi yang ditorehkan pemerintah yakni penanganan pandemi Covid dan perekonomian yang pulih di tengah berbagai tantangan global.
Baca juga : Mode Perang Dinyalakan Di Laut Bali
Program Ekonomi
Sementara, pakar komunikasi politik dari Universitas Airlangga Suko Widodo menilai, pemilihan isu ekonomi ditonjolkan KIB sebagai pembeda dari kandidat lain.
"Artinya, KIB itu mengangkat isu yang mutakhir, mencari ruang yang selama ini tidak terlalu dibahas oleh lawan-lawan politiknya. Terutama isu terhadap masa depan ekonomi yang suram," terangnya.
Suko menilai, jarang ada kandidat dalam kontestasi pilpres yang fokus pada isu ekonomi.
Baca juga : IMI Matangkan Peraturan Legalitas Kendaraan Modifikasi
"Sejauh ini memang betul, tidak menarik (bagi kandidat), selalu yang dibicarakan soal kebangsaan, soal kerukunan, keamanan," tegasnya.
Isu ekonomi menjadikan KIB mempunyai nilai lebih di mata publik, yang berharap ada kejelasan terkait kondisi ekonomi Indonesia di masa mendatang.
"Saya kira ini gagasan cerdas. Gagasannya ya, bukan orangnya. Tawaran cerdas. Ini justru yang cerdas menjawab kegalauan, kegelisahan banyak orang tentang masa depan isu ekonomi," ungkapnya.
Meski demikian, Suko mengingatkan agar isu tersebut tidak sekadar gagasan, harus diterjemahkan dalam program kerja nyata.■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya