Dewan Pers

Dark/Light Mode

Rencana Pertemuan Golkar Dan PKB Untuk Perkuat Posisi

Selasa, 7 Februari 2023 06:29 WIB
Foto: Ilustrasi/Istimewa
Foto: Ilustrasi/Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Surokim mengatakan, undangan pertemuan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan Partai Golkar untuk memperkuat posisi keduanya.

"Semua partai tidak ingin hanya menjadi pelengkap dan ingin mendapat peran optimal dalam koalisi," tegas Surokim, Senin (6/2).

Menurutnya, dalam koalisi berlaku siapa berbuat apa, memperoleh apa dalam sharing power, yang aktif dan yang pasif biasanya ada perbedaan.

"Inisiatif PKB harus dibaca dalam konteks sebenarnya. Ingin lebih proaktif sehingga akan memperoleh posisi tawar yang lebih kuat. Dan, kenapa PKB mengajak Golkar, karena  untuk melengkapi basis massa PKB," jelas Surokim.

Jika PKB tertarik mengajak Golkar, lanjut Surokim, tentu bukan tanpa alasan. Golkar sebagai partai modern urban bakal melengkapi PKB sebagai partai berbasis plural tradisional, sehingga dianggap akan saling melengkapi.

Berita Terkait : Wamenag: Isu Fanatisme Kelompok Di Tahun Politik Perlu Diantisipasi

Pertemuan koalisi yang marak belakangan ini merupakan bentuk dinamika politik. Pun rencana pertemuan PKB- Golkar.

"Koalisi yang ada saat ini masih sementara, masih semu, masih tahap penjajakan awal dan belum permanen," tandas Surokim.

Saat ini, baik Golkar dan PKB akan mengusung ketua umumnya masing-masing maju dalam Pilpres 2024. Airlangga Hartarto secara bulat didukung oleh Golkar. Demikian juga dengan Muhaimin Iskandar oleh PKB.

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga mengatakan, keinginan Cak Imin- sapaan akrab Muhaimin Iskandar, mengajak Golkar bergabung ke Koalisi Gerindra-PKB sebagai hal wajar. Sebab, hingga saat ini koalisi yang terbentuk pada umumnya masih cair.

"Saat ini masing-masing koalisi dalam situasi rentan. Sebab, setiap koalisi sudah mulai membicarakan pasangan capres yang akan diusung," terangnya.

Berita Terkait : Ustadz Andian Parlindungan: Perlu Karakter Kuat Untuk Terjun Ke Politik

Menurut dia, tarik menarik sesama partai politik di masing-masing koalisi akan menguat dan berpeluang menimbulkan ketidakpuasan diantara partai politik yang berkoalisi itu sendiri.

"Saat kondisi demikian, membuka ruang partai politik akan keluar atau masuk ke koalisi tertentu. Hal itu tampaknya yang ingin dimanfaatkan Cak Imin untuk menarik Golkar ke Koalisi Gerindra-PKB," ungkapnya.

Restu Istana

Kendati demikian, potensi keberhasilan Cak Imin juga patut ditimbang. Pertama, terkait dengan restu yang diberikan Jokowi dalam Pilpres 2024.

Kalau Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bentukan Istana, maka peluang Golkar pindah ke koalisi Gerindra-PKB sangat besar. Bahkan tidak menutup kemungkinan PAN dan PPP ikut bergabung.

Berita Terkait : Pengamat: Keberhasilan Jasindo Naikkan RBC Patut Diapresiasi

“Tentu hal itu terjadi bila ada restu dari Istana. Namun restu itu diberikan bila Istana menginginkan Prabowo Subianto yang menjadi capres," ujar Jamiluddin.

Kedua, Golkar akan menolak tawaran Cak Imin dan tetap berada di KIB. Golkar sebagai motor KIB, tentu akan lebih berupaya menciptakan KIB menjadi lebih kompetitif agar dapat menang pada Pilpres 2024.

"Bila KIB bukan bentukan Istana maka Golkar akan menolak tawaran Cak Imin. Golkar akan merasa lebih nyaman tetap bergabung di KIB," ujarnya.

Pada titik itu, Golkar justru diprediksi akan berupaya balik untuk menarik PKB dalam KIB.

"Tapi, peluang Golkar menarik PKB juga tidak mudah. Sebab, PKB tampaknya sudah nyaman bersama Gerindra," pungkasnya.■