Dark/Light Mode

Sohibul Iman: Pemimpin Harus Ubah Potensi Bangsa Jadi Kekuatan Nasional

Rabu, 16 September 2026 11:12 WIB
Foto: PKS.
Foto: PKS.

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Majelis Syura PKS Sohibul Iman menilai Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengubah besarnya potensi bangsa menjadi kekuatan nasional yang nyata.

Menurutnya, keberhasilan seorang pemimpin tidak semata diukur dari besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi dari kemampuan mengonversinya menjadi kapasitas, produktivitas, dan kemajuan.

Sohibul menyampaikan pandangan tersebut dalam Focus Group Discussion (FGD) Kepemimpinan dan Lingstra Nasional MPP PKS di Aula Utama Kantor DPTP PKS, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Dia menilai, tantangan Indonesia saat ini bukan karena kekurangan potensi, melainkan kapasitas riil yang dihasilkan belum sepenuhnya mencerminkan besarnya sumber daya manusia, sumber daya alam, dan kekuatan institusi yang dimiliki.

“Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu melipatgandakan potensi yang ada,” ujar Sohibul.

Baca juga : Pemimpin Pertama Hong Kong Tung Chee Hwa Meninggal di Usia 89 Tahun

Karena itu, menurutnya, pemimpin tidak cukup hanya berperan sebagai administrator yang menjaga keadaan tetap berjalan.

Pemimpin juga harus menjadi value creator yang mampu menemukan, mengorganisasi, dan mengembangkan kekuatan bangsa sehingga melahirkan kapasitas-kapasitas baru.

Dalam perspektif kepemimpinan Islam, Sohibul mengingatkan empat karakter utama yang dicontohkan Rasulullah SAW, yakni shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh.

Shiddiq menegaskan pentingnya kejujuran dan integritas. Amanah menuntut tanggung jawab dan kemampuan menjaga kepercayaan.

Sementara fathanah mencerminkan kompetensi dan kecakapan, sedangkan tabligh menuntut keterbukaan, komunikasi, transparansi, dan keteladanan.

Baca juga : Gaji PM Singapura Lawrence Wong Naik Jadi Rp50 Miliar Setahun

Menurut Sohibul, shiddiq dan amanah menjadi fondasi untuk menjaga serta merawat apa yang telah dimiliki bangsa. Adapun fathanah dan tabligh menjadi dasar bagi kemampuan mengembangkan kapasitas baru.

“Kepemimpinan harus mampu merawat apa yang sudah ada dan mengembangkan apa yang belum ada. Jadi bukan hanya menjaga, tetapi juga menciptakan kemajuan,” katanya.

Dia menilai, perbaikan kualitas kepemimpinan nasional perlu berjalan bersamaan dengan pembenahan sistem politik dan mekanisme rekrutmen kepemimpinan, mulai dari Pemilu, Pilpres, Pileg, hingga Pilkada.

Demokrasi, menurut Sohibul, tidak boleh berhenti pada mekanisme menghasilkan pemenang kontestasi.

Demokrasi juga harus mampu melahirkan pemimpin yang berintegritas, kompeten, amanah, dan memiliki visi kebangsaan yang kuat.

Baca juga : PTPN IV PalmCo Siapkan Talenta Pemimpin Perempuan Nasional

Di tengah luasnya wilayah dan keberagaman Indonesia, Sohibul juga menekankan pentingnya tipe kepemimpinan yang mampu membangun solidaritas nasional.

Dia menyebutnya sebagai solidarity maker leader, yakni pemimpin yang mampu merangkul, mengonsolidasikan berbagai kekuatan, serta mengubah keragaman menjadi energi kolektif bagi kemajuan bangsa. Namun, dia mengingatkan solidaritas tidak boleh berubah menjadi sikap permisif.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul tanpa kehilangan ketegasan, tegas tanpa memecah belah, menjaga tanpa membuat bangsa stagnan, serta mengembangkan tanpa kehilangan arah nilai.

“Pada akhirnya, kepemimpinan nasional harus mampu mengubah Indonesia yang kaya potensi menjadi Indonesia yang benar-benar kuat kapasitasnya,” pungkas Sohibul.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.