Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Di sisi lain, caleg ditugaskan untuk ikut mengampanyekan calon presiden yang diusung partainya. Kondisi ini, menurut Hurriyah, membuat beban kampanye caleg semakin besar. ”Caleg harus bekerja untuk kampanye presiden, partai, dan dirinya. Kondisi ini membuat caleg membutuhkan energi lebih besar,” katanya.
Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Firman Noor, mengatakan, pelaksanaan pemilu serentak membuat publik tidak antusias terhadap pemilihan DPR dan DPD. Firman khawatir, saat hari pencoblosan, warga belum menentukan pilihan pada calon DPR dan DPD.
“Masuk bilik suara terus blank (kosong), tidak tahu mau mencoblos siapa dan akhirnya dipilih caleg yang tidak mereka kenal secara mendalam,” ujar Firman.
Baca juga : Kiai Hingga Masyarakat DIY Ingatkan Pejabat Dan Aparat Jaga Netralitas Pemilu
Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti menyebut, masih banyak kelompok masyarakat yang belum menentukan pilihan dan akan menggunakan hak pilih. Dari survei yang dimilikinya, Ray memprediksi tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 2024 akan berkisar di 70 persen.
“Saat ini saya melihat tingkat partisipasinya masih datar-datar saja. Paling tinggi mungkin 70 persen,” kata Ray.
Ia lalu membeberkan tingkat partisipasi pemilih dalam Pilpres 2014 sebesar 69,6 persen. Angka tersebut naik menjadi 81,9 persen pada Pilpres 2019. Menurut dia, tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 tinggi lantaran muncul isu hoaks yang membuat pemilih bersemangat datang ke TPS.
Baca juga : Lembaga Survei seperti Jamur di Musim Hujan
Saat ini, kata Ray, semangat pemilih untuk datang ke TPS dinilai masih biasa saja. Menurut dia, ada beberapa alasan yang membuat tingkat partisipasi masih datar. Ada kelompok yang belum tahu ada pemilu, termasuk soal batas waktu pindah TPS yang tenggatnya habis pada 15 Januari 2024.
Tak hanya pemilih yang tinggal di daerah, mereka yang di kota juga banyak yang belum tahu soal persyaratan yang harus dilengkapi untuk mengurus pindah TPS. Kelompok lain, ada juga yang mengganggap pemilu tidak berdampak langsung pada kehidupannya.
“Bukan tidak aware terhadap pemilu. Namun mereka menganggap siapapun yang menang akan sama saja,” ujarnya.
Baca juga : Pengamat: Mustahil Pemilu 1 Putaran
Ia mengungkap hasil Survei Litbang Kompas pada Desember lalu yang menunjukkan sebanyak 89,2 persen responden menyatakan akan menggunakan hak pilihnya. Sisanya, 10,4 persen masih ragu-ragu atau belum menentukan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya