Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bisa Bongkar Tak Bisa Masang

Kamis, 10 Februari 2022 07:01 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketika Soeharto jatuh, para pejuang reformasi merasa: kami akan memenangi pertarungan ini. Kami akan mengendalikan perjuangan ini. Masa depan ada di tangan kita. Kita akan membangun Indonesia yang baru. Yang jauh lebih baik.

Para pejuang awal reformasi itu berusia 20-an atau 30-an. Yang berusia 40-an atau 50-an berjuang dengan caranya sendiri: menyumbang dana, menggalang massa dan opini serta kekuatan. Ada juga yang bertugas menyuntikkan motivasi. Yang paling lemah: berdoa dalam hati.

Sekarang, ketika usia bertambah, kepentingan berubah, kemana mereka?

Berita Terkait : Ketangkap Karena Apes

Kemana gairah dan tekad itu?

Ketika di antara pejuang itu ada di posisi penting, di manapun, bahkan sampai tak lagi menjabat, reformasi tak bisa melaju kencang.

Hampir 24 tahun berlalu, semangat itu seperti menjadi jargon semata. Nostalgia bagi para pejuang yang berjalan di lorong masing-masing, mencari “sesuatu”. Bahkan, para mahasiswa yang gugur dalam peristiwa itu, orang tuanya masih terus berjalan mencari keadilan.

Berita Terkait : Menghadapi Ketidakpastian

Tak dipungkiri, selama 24 tahun sudah banyak yang dicapai. Tapi, tidak sedikit cita-cita yang terbengkalai. Dimakan zaman. Digerus kepentingan dan keserakahan.

Anak-anak reformasi tumbuh di lingkungannya masing-masing. Berjalan di jalurnya sendiri. Reformasi kehilangan kendali. Sadar atau terpaksa.

Ada yang bertahan dengan idealismenya. Ada yang berubah seperti bunglon. Kebenaran dan kesalahan lalu diseting sesuai kondisi. Mereka bahkan bertengkar sendiri. Memperjuangkan prinsip dan kepentingan masing-masing.
 Selanjutnya