Dewan Pers

Dark/Light Mode

KPK Dan Netizen

Jumat, 10 Juni 2022 07:15 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Kalau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah tak lagi bergigi, maka runtuhlah sudah salah satu benteng penegakan hukum kita. KPK, yang dulu kita bangga-banggakan, kini seakan sudah tidak bertaji. Penanganan kasus besar berkurang, kepercayaan publik pun menghilang.

Untuk menangani kasus-kasus korupsi, kita benar-benar perlu institusi penegak hukum yang kuat. Yang memiliki integritas dan profesionalitas. Mengapa? Karena yang berperkara umumnya adalah orang-orang yang memiliki pengaruh kuat, bahkan kekuasaan yang tak terbatas. Dengan resources-nya itu, mereka bisa melakukan perlawanan.

Berita Terkait : Hati-hati! Politisi Kompor Berkeliaran

Nyali mereka untuk melakukan perbuatan melawan hukum sangat besar. Karena mereka merasa apapun bisa ditransaksikan. Semuanya bisa dibeli, dan menyuap penegak hukum dianggap sebagai bagian dari proses bisnis. Tanda-tandanya sudah terlihat.

Bernyalinya mereka yang disangkakan terlibat dalam skandal untuk memburon adalah indikasi kuat pelecehan terhadap wibawa hukum. Ini sungguh mengerikan. Dan jangan sampai dibiarkan.

Berita Terkait : Eksistensi Politisi

Saat ini, perlu tampil pahlawan yang bukan hanya menyuarakan pentingnya penguatan peran KPK, tapi juga dengan kekuatan serta jaringannya mengokohkan KPK. Entah bagaimana caranya. Sungguh mendesak. Dari semua lapisan masyarakat.

Di era digital ini, yang bisa diharapkan terus mengawasi dan melakukan political pressure ialah para netizen. Karena itu, netizen jangan lengah. Bersatulah menyuarakan dan menghantam siapa saja perusak wibawa hukum.

Berita Terkait : Repackaging Pancasila

Netizen, sekali lagi, jangan diam. Gunakan kekuatan tagar agar trending, untuk mencuri perhatian seluruh rakyat Indonesia. Terutama para pemimpin agar waspada. Jika mereka merendahkan hukum maka mereka berhadapan dengan rakyat.