Dewan Pers

Dark/Light Mode

"Last Minute Politics"

Minggu, 28 Agustus 2022 06:39 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Apakah Pilpres 2024 hanya diikuti dua pasang calon? Bisa iya, bisa tidak.

Kalau hanya diikuti dua pasang, parpol lebih mudah ”mengelolanya”. Bertanding melawan kawan sendiri pun bisa. Dicarikan calon lawan yang terlemah, juga bisa.

Semuanya tergantung kemampuan parpol, bagaimana mengelolanya. Yang menginginkan hanya dua pasang, baru PDI-P, seperti disampaikan Sekjennya Hasto Kristiyanto.

Berita Terkait : "Reshuffle Kerakyatan"

Dalam nada bertanya bernuansa permintaan, Hasto mengatakan, “kenapa (kita) tidak membangun kesepahaman di depan saja?”

Apakah kesepahaman di depan ini bermaksud; dua pasang tersebut dirembukkan saja, atau bahkan kalau perlu, calon-calonnya pun dimusyawarahkan saja di antara parpol. Apakah begitu?

Sejauh ini, kemungkinan munculnya empat pasang, juga masih sangat besar. Atau, paling tidak, tiga pasang.

Berita Terkait : 2024, Polarisasi Akan Menguat?

Empat pasang tersebut berasal dari: PDI-P yang memenuhi syarat untuk mengajukan sendiri. Lalu ada Koalisi Indonesia Bersatu (KIB); Golkar, PPP dan PAN.

Kemudian ada Gerindra dan PKB yang sudah membentuk koalisi. Juga ada kemungkinan koalisi NasDem, Demokrat dan PKS. Empat “koalisi” tersebut masing-masing sudah memiliki kandidat bakal calon.

Yang menarik, calon-calon tersebut sepertinya bisa lompat sana-lompat sini. Bisa masuk ke parpol atau koalisi mana saja. Seperti bursa transfer pemain sepakbola. Tak peduli lagi, apakah pasangan tersebut cocok dengan tantangan yang akan dihadapi, setidaknya, lima tahun ke depan.

Berita Terkait : Korupsi "Orang Pintar"

Semuanya akan ditentukan di menit-menit terakhir. Termasuk siapa pasangan capres-cawapresnya. “Injury time politics” atau “last minute politics” sudah menjadi tradisi dalam pemilu/pilkada di negeri ini.
 Selanjutnya