Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sudah Lama Bocor

Jumat, 16 September 2022 06:10 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Ulah hacker Bjorka bikin publik dan juga pejabat gempar. Gara-gara ulah Bjorka, data pribadi sebagian pejabat menjadi konsumsi publik. Bahkan, ada satu pejabat yang langsung parno alias paranoid, karena nomor WhatsApp (WA) dia menyebar ke mana-mana.

Sebenarnya, pembocoran yang dilakukan Bjorka ini bukan hal baru. Sudah lama, di negara kita, dana pribadi, bahkan juga dokumen negara, sering bocor. Pelakunya macam-macam. Ada yang orang dalam, ada yang motifnya mencari keuntungan, ada pihak yang sakit hati, ada juga seseorang yang punya kemampuan investasi yang tinggi untuk menelisik sebuah data.

Berita Terkait : Mengampuni Para Koruptor

Sebagian kita tentu masih ingat dengan kasus pembocoran data yang dilakukan WikiLeaks di tahun 2014. Meski tidak semua datanya benar, tapi sempat bikin heboh. Kemudian, ada juga akun Twitter Triomacan2000 yang pernah beberapa kali mengungkap data kasus korupsi, walaupun kemudian diketahui bahwa motifnya adalah pemerasan dan politik.

Selain itu, di bidang penegakan hukum, aparat kita juga sering kecolongan dalam menjaga data. Contohnya dalam penetapan seseorang menjadi tersangka. Banyak kasus, sebelum diumumkan ke publik dan dilakukan pencekalan, tersangka tersebut sudah lebih dulu tahu penetapan dirinya. Sehingga dia buru-buru kabur. Kasus Harun Masiku salah satunya.

Berita Terkait : Jangan Ada Keretakan Di TNI

Jadi, pembocoran data dan informasi itu sebenarnya bukan hal baru. Motifnya juga tidak berbeda jauh. Kalau bukan untuk keuntungan ekonomi, ya politik. Itu saja. Yang membedakan Bjorka dengan kasus-kasus sebelumnya terletak di cara meretas data tersebut.

Kita setuju dengan yang disampaikan Menko Polhukam Mahfud MD, bahwa data yang dibocorkan Bjorka sebenarnya hal umum. Tidak ada rahasia negara. Sebagian bahkan data lama. Namun, kasus ini sudah cukup untuk menjadi alarm buka kita harus lebih ketat lagi dalam menjaga data. Jangan lagi ada kebocoran. Karena dampaknya akan sangat merugikan.

Berita Terkait : Ojo Dibandingke

Presiden Jokowi juga sudah berkali-kali menegaskan, penguasaan data sangat penting. Data sudah menjadi new oil. Yang menguasai data, bisa menguasai dunia. Karena itu, data yang ada harus dijaga sebaik mungkin. ■