Dewan Pers

Dark/Light Mode

Teka-Teki Pasca Covid

Minggu, 18 September 2022 06:32 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Senja kala Covid-19 sudah di depan mata. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengibaratkannya seperti pelari maraton yang sudah melihat garis finis.

“Walau garis finis sudah di depan mata, pelari maraton tak akan menghentikan langkahnya. Dia justru berlari lebih kuat dengan energi tersisa. Kita juga demikian. Karena kita sudah berada di jalur kemenangan. Jangan berhenti berlari...”

Demikian Direktur Jenderal (Dirjen) WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memberi perumpamaan kondisi saat ini.

Berita Terkait : Bagaimana Setelah Bjorka?

Maraton, yang diambil dari nama kota di Yunani, adalah ajang lari jarak jauh sepanjang 42,195 kilometer. Seperti itulah manusia berlari di tengah badai Covid-19. Garis finis terlihat kian dekat.

Selama dua tahun ini, tatanan sosial, politik, ekonomi, budaya, berubah. Dunia pasca Covid, sudah tidak akan sama lagi.

Digitalisasi, virtualisasi, seperti kerja dari rumah dan pembelajaran jarak jauh, telemedicine, layanan pengiriman, serta banyak lagi, menjadi kenormalan baru.

Berita Terkait : Menteri Pun Ikut Terusik

Lalu bagaimana pasca Covid-19? Kita ambil satu contoh saja: UU No 2 tahun 2020 yang awalnya disebut Perpu Corona.

Ada yang menyebut UU ini seperti memberikan hak imunitas terhadap para pembuat kebijakan. Karena, kebijakan apa pun yang diambil terkait Covid, tak bisa dipidana.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari biaya ekonomi untuk penyelamatan perekonomian dari krisis. Bukan kerugian negara. Bukan pula obyek yang bisa digugat, sepanjang dilakukan dengan iktikad baik dan sesuai UU.
 Selanjutnya