Dark/Light Mode

Adu Kuat Survei Capres

Jumat, 25 Agustus 2023 00:07 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Survei elektabilitas Capres semakin marak. Hampir setiap pekan ada rilis hasil survei baru. Lembaga yang melakukan survei juga sangat banyak. Ada lembaga lama yang sudah punya nama, ada juga lembaga baru yang sedang merintis.

Dari sejumlah survei itu, nama Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto (penyebutan diurutkan berdasarkan abjad) tidak tergeserkan dalam tiga besar. Namun, hasil surveinya warna-warni. Ada yang menempatkan Ganjar sebagai pemegang puncak elektabilitas, ada yang mengunggulkan Prabowo, ada juga yang memperlihatkan Anies menanjak.

Baca juga : Kelaparan Di Papua Diurus Wapres

Kondisi ini sering membuat publik bingung. Kecurigaan pun muncul. Jangan-jangan lembaga tertentu sudah dikontrak calon tertentu, sehingga hasil surveinya tinggi. Apalagi, “belangnya” lembaga survei pernah dibongkar Darel Huff, penulis asal Amerika Serikat, dalam bukunya yang berjudul “How to lie with statistics”, yang terjemahan bahasa Indonesia-nya “Berbohong dengan Statistik”.

Meski demikian, sebaiknya publik tidak berburuk sangka terlebih dahulu. Kita memang paham, sebagian lembaga survei yang ada sudah merangkap sebagai konsultan politik. Tapi, bukan berarti mereka memanipulasi hasil surveinya.

Baca juga : Tarik-Ulur Penentuan Cawapres

Namun, agar kecurigaan di publik tidak liar, sebaiknya lembaga survei juga dapat menjelaskan mengapa hasil penelitian yang mereka dapatkan berbeda.

Lembaga survei harus mampu menjelaskan metodologi dan metode pengambilan sampel dalam survei yang mereka lakukan. Mereka harus memastikan kepada publik bahwa sampel yang dicuplik tidak bias, sebarannya sesuai demografi, dan benar-benar mewakili populasi.

Baca juga : Beda Sikap Capres dan Pendukungnya

Jadi, dalam rilis yang dilakukan, tidak hanya menampilkan angka-angka bahwa calon tertentu unggul. Tampilkan juga secara gamblang metodologi yang mereka gunakan, dan sampel-sampel yang mereka cuplik. Agar publik tercerahkan, bahwa perbedaan hasil survei hal yang wajar karena perbedaan metodologi dan cara pengambilan sampel.

Harus dijelaskan pula bahwa berbohong dengan statistik itu sangat berisiko bagi lembaga survei. Sebab, jika ada yang nekat menggunakan itu, kredibilitas lembaga survei itu akan hilang. Lembaga survei itu juga bisa dikeluarkan dari asosiasi karena dianggap telah melanggar kode etik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.