Dark/Light Mode

Normalisasi Tragedi

Minggu, 31 Agustus 2025 06:26 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

 Sebelumnya 
Fenomena ini dinormalisasi selama bertahun-tahun dan dianggap “biasa saja”, seperti hari Senin yang pasti akan datang setelah hari Minggu.

Manuver dan konflik politik, elite yang terpisah dari realitas kehidupan rakyat, skandal megakorupsi, kebijakan yang tidak menyelami aspirasi rakyat, ikut mempercepat “normalisasi”, kelelahan bahkan amarah sosial.

Saatnya introspeksi secara sistemik, kolektif dan struktural. Bukan hanya DPR, tapi juga eksekutif dan yudikatif. Semuanya. Jangan sampai tragedi atau kasus-kasus besar dianggap sekadar peristiwa semata yang datang dan pergi. Tanpa pelajaran, tanpa perbaikan. Jangan.

Baca juga : Matinya Empati

Tragedi kepergian Affan Kurniawan, pengemudi ojol berusia 21 tahun, adalah pelajaran yang tak ternilai harganya.

Kepergian Affan menjadi simbol ketegangan sosial yang selama ini tak terungkapkan. Kepulangannya di usia muda menggambarkan ketimpangan rasa, urgensi, dan komunikasi antara kekuasaan dengan rakyat.

Ke depan, kita berharap, para elite politik bisa memaknai rangkaian peristiwa menyedihkan ini sebagai pelajaran penting untuk perbaikan.

Baca juga : Terjebak “Sultan” 

Jangan lagi ada yang berpikir “paling sehari-dua hari, atau seminggu dua minggu, setelah itu hilang, ketutup oleh isu-isu lain”.

“Normalisasi” seperti itu adalah tragedi bagi bangsa besar ini.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 31 Agustus 2025 dengan judul "Normalisasi Tragedi"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.