Dark/Light Mode

Menjalin Harapan Baru

Jumat, 12 September 2025 05:36 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah riuh demonstrasi, hening bukan berarti pulih. Banyak yang diam, tapi belum selesai menata luka. Kita memasuki fase genting: bukan hanya soal ekonomi atau politik, tapi soal rasa percaya, rasa kebersamaan, dan arah batin bangsa. Inilah saat ketika spiritualitas publik tidak lagi bisa ditaruh di rak seremonial. Ia harus mengalir ke tengah wacana rekonstruksi nasional—sebagai energi moral, bukan aksesori budaya.

Spiritualitas publik yang dimaksud bukan doktrin atau ritual formal. Ia adalah kesadaran bersama tentang harga hidup manusia, tentang kejujuran dalam mengelola kekuasaan, dan tentang rasa malu ketika rakyat dibiarkan sendiri. Dalam spiritualitas publik, pemulihan bukan hanya agenda negara, tapi proyek nurani seluruh masyarakat. Bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi juga pemulihan nilai.

Baca juga : Ekonomi yang Tertatih

Jika ekonomi butuh stimulus, maka batin publik juga perlu perawatan. Harapan tidak tumbuh dari pidato, tapi dari sikap dan tindakan yang berakar pada kejujuran dan keberpihakan. Di desa-desa, di lorong kota, di ruang kelas, dan di masjid-masjid kecil, harapan dibina lewat solidaritas dan keberanian untuk tetap percaya. Bukan kepada retorika, tetapi kepada sesama.

Sudah saatnya negara hadir bukan sekadar sebagai manajer krisis, tetapi sebagai penjaga nilai. Negara yang hidup bukan negara yang hanya responsif terhadap statistik, tapi yang mendengar detak batin rakyatnya. Ia hadir untuk merawat ruang dialog, bukan memata-matai perbedaan. Ia menyuburkan keyakinan bahwa hukum dan keadilan bukan alat menekan, melainkan jembatan kepercayaan.

Baca juga : Jejak Luka Sosial

Kita tidak bisa selamanya bertahan dalam logika darurat. Bangsa ini perlu menata ulang cara pandangnya: dari mengelola stabilitas menuju merawat kemanusiaan. Dari memproduksi kepatuhan menuju menghidupkan kesadaran. Dari simbol ke substansi. Dan semua ini tidak bisa terjadi jika spiritualitas publik tidak diberi ruang hidup yang otentik.

Inilah momentum: menjalin harapan baru di tengah reruntuhan ketegangan. Sebuah harapan yang tumbuh bukan dari janji elite, tapi dari simpul-simpul kemanusiaan yang bekerja dalam diam. Dari ibu-ibu yang membagi nasi bungkus, dari pemuda-pemudi yang menjaga taman bacaan, dari para guru yang tetap mengajar walau gajinya tertunda. Harapan itu ada, tinggal negara mau ikut atau tidak.

Baca juga : Demokrasi Bergetar

Sebab, dalam sejarah bangsa mana pun, yang menyelamatkan negara bukan hanya kekuatan anggaran atau kekuatan senjata—tetapi kekuatan jiwa kolektif yang tak ingin menyerah. Dan di negeri ini, kekuatan itu masih ada. Kita hanya perlu menjalin ulang jaringnya—dengan cinta, dengan nilai, dan dengan keyakinan kepada kemungkinan yang lebih baik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.